Selamat Datang di IISA - Assessment, Consultancy & Research Centre

  • (021) 537 3482 (BSD Tangerang) * WA BSD Tangerang: 0813 1888 2382

  • (021) 537 3482 (BSD Tangerang) * WA BSD Tangerang: 0813 1888 2382

Ketika Urutan Lahir Menjadi Narasi yang Terasa Benar

Ketika Urutan Lahir Menjadi Narasi yang Terasa Benar

Di banyak keluarga, urutan lahir kerap dijadikan kunci paling mudah untuk menjelaskan kepribadian seseorang. Anak pertama dianggap bertanggung jawab dan perfeksionis, anak tengah diplomatis, tetapi sering merasa terabaikan, sementara anak bungsu dilekatkan dengan sifat manja, kreatif, dan bebas. Narasi ini begitu akrab, diwariskan dari obrolan keluarga hingga konten psikologi populer di media sosial, hingga nyaris tak pernah dipertanyakan.

Ketika seseorang berkata, “Wajar aku begini, aku anak bungsu,” kalimat itu jarang ditanggapi sebagai asumsi. Ia diterima sebagai penjelasan psikologis yang sah. Di sinilah letak persoalannya: sesuatu yang terasa masuk akal, diulang terus-menerus, dan diperkuat oleh lingkungan sosial, kerap disamakan dengan kebenaran ilmiah. Padahal, dalam psikologi, “terasa benar” bukanlah ukuran validitas.

Daya Tarik Psikologi Urutan Lahir

Psikologi urutan lahir berakar dari pemikiran Alfred Adler pada awal abad ke-20. Adler menilai bahwa posisi anak dalam keluarga membentuk cara ia berjuang, berkompetisi, dan mencari makna dalam relasi sosial. Dalam konteks sejarahnya, gagasan ini penting karena menempatkan keluarga sebagai ruang psikologis yang hidup, bukan sekadar latar biologis.

Namun, gagasan yang awalnya bersifat reflektif dan kontekstual itu kemudian disederhanakan. Dalam versi populernya, psikologi urutan lahir berubah menjadi daftar ciri kepribadian yang ringkas dan mudah dihafal. Kesederhanaan inilah yang membuatnya bertahan. Ia menawarkan ilusi keteraturan di tengah kompleksitas manusia.

Masalahnya, psikologi ilmiah tidak berhenti pada narasi yang rapi. Ia menuntut bukti.

Ketika Pola Tidak Konsisten dengan Kenyataan

Dalam kehidupan nyata—baik di ruang praktik psikologi maupun dalam dinamika keluarga sehari-hari—pengecualian justru lebih sering ditemukan daripada konfirmasi. Anak sulung tidak selalu matang, anak bungsu tidak selalu manja, dan anak tengah tidak selalu pandai bernegosiasi. Bahkan, dalam keluarga yang sama, karakter anak-anak bisa sangat berbeda dari stereotip urutan lahirnya.

Penelitian psikologi modern menguatkan pengamatan ini. Sejumlah studi berskala besar menunjukkan bahwa pengaruh urutan lahir terhadap kepribadian sangat kecil dan sering kali tidak signifikan. Analisis lintas budaya yang dilakukan Rohrer, Egloff, dan Schmukle (2015), misalnya, menemukan bahwa setelah variabel-variabel lain dikendalikan—seperti ukuran keluarga, status sosial ekonomi, dan lingkungan—pengaruh urutan lahir terhadap ciri kepribadian hampir menghilang.

Dengan kata lain, jika pengaruhnya ada, ia terlalu lemah untuk dijadikan dasar penilaian karakter seseorang.

Mengapa Tetap Terasa Meyakinkan?

Lantas, mengapa psikologi urutan lahir tetap terasa benar? Jawabannya bukan terletak pada struktur keluarga, melainkan pada cara kerja pikiran manusia.

Manusia memiliki kecenderungan kuat untuk mengenali pola. Kita mengingat contoh yang sesuai dengan keyakinan kita dan mengabaikan yang bertentangan. Bias konfirmasi bekerja secara halus, membuat kita merasa seolah-olah pola itu selalu terbukti. Selain itu, banyak deskripsi urutan lahir bersifat umum dan lentur—cukup luas untuk cocok dengan banyak orang. Fenomena ini dikenal sebagai Barnum Effect, ketika pernyataan generik terasa personal dan akurat.

Ditambah lagi, cerita tentang urutan lahir diperkuat oleh narasi keluarga dan budaya. Ia menjadi bagian dari kisah yang diceritakan ulang, bukan karena diuji, melainkan karena terasa familiar.

Dari Heuristik ke Bias Berpikir

Pada titik ini, psikologi urutan lahir lebih tepat dipahami sebagai heuristik—alat bantu berpikir yang sederhana—bukan sebagai teori kepribadian yang kokoh. Ia menjadi bias berpikir ketika digunakan untuk melabeli, membatasi, atau membenarkan perilaku secara permanen.

Bahaya terbesar dari bias ini adalah self-fulfilling prophecy. Anak yang terus-menerus disebut keras kepala karena ia anak pertama, atau manja karena ia anak bungsu, berisiko tumbuh mengikuti ekspektasi tersebut. Bukan karena urutan lahirnya menentukan kepribadian, melainkan karena lingkungan memperlakukannya seolah-olah label itu adalah takdir.

Dalam konteks pengasuhan dan pendidikan, bias ini dapat mengaburkan kebutuhan individual anak. Fokus berpindah dari “apa yang sedang dialami anak ini?” menjadi “dia memang begitu karena posisinya”.

Menyesuaikan Narasi dengan Cara yang Lebih Bertanggung Jawab

Psikologi perkembangan kontemporer menawarkan perspektif yang lebih rasional dan manusiawi. Kepribadian tidak lahir dari urutan semata, melainkan dari interaksi kompleks antara temperamen bawaan, pola kelekatan, pengalaman emosional awal, serta konteks sosial dan budaya. Peran anak dalam keluarga pun tidak statis. Ia berubah seiring waktu, situasi, dan relasi.

Dalam kerangka ini, urutan lahir boleh menjadi bahan refleksi ringan—sebuah cerita pembuka, bukan kesimpulan akhir. Ia dapat membantu kita memulai percakapan, tetapi tidak layak menjadi alat diagnosis, apalagi vonis karakter.

Bagi orangtua dan pendidik, sikap paling bijak bukanlah menghafal ciri anak pertama atau bungsu, melainkan melatih kepekaan terhadap keunikan tiap individu. Bagi individu dewasa, melepaskan identitas yang semata-mata dibangun dari urutan lahir dapat membuka ruang pemahaman diri yang lebih utuh dan bertanggung jawab.

Psikologi populer sering menawarkan cerita yang nyaman. Psikologi ilmiah, sebaliknya, mengajak kita menerima ketidaknyamanan bahwa manusia tidak sesederhana kategori. Kedewasaan berpikir terletak pada kemampuan menikmati cerita tanpa terjebak olehnya.

Urutan lahir mungkin menarik untuk dibicarakan, tetapi manusia selalu lebih luas daripada posisi kelahirannya dalam keluarga. Dan psikologi, jika ingin setia pada martabat manusia, seharusnya berpihak pada kompleksitas itu—bukan pada simplifikasi yang terasa benar, tetapi menyesatkan.

Daftar Pustaka

Adler, A. 1928. “Characteristics of the first, second, and the third child”. Children, The Magazine for Parents, 3, 14–52.

Adler, A. 1958. What life should mean to you. Capricorn Books. (Original work published 1931).

Harris, J. R. 1998. The nurture assumption: Why children turn out the way they do. Free Press.

Harris, J. R. 2000. “Context-specific learning, personality, and birth order”. Current Directions in Psychological Science, 9(5), 174–177. Diakses 9 Januari 2026. https://doi.org/10.1111/1467-8721.00086

Jefferson, T., Herbst, J. H., & McCrae, R. R. 1998. “Associations between birth order and personality traits: Evidence from self-reports and observer ratings”. Journal of Research in Personality, 32(4), 498–509. Diakses 9 Januari 2026. https://doi.org/10.1006/jrpe.1998.2233

McCrae, R. R., & Costa, P. T. 2008. “The five-factor theory of personality”. In O. P. John, R. W. Robins, & L. A. Pervin (Eds.), Handbook of personality: Theory and research (3rd ed., pp. 159–181). Guilford Press.

Rohrer, J. M., Egloff, B., &Schmukle, S. C. 2015. “Examining the effects of birth order on personality”. Proceedings of the National Academy of Sciences, 112(46), 14224–14229. Diakses 9 Januari 2026. https://doi.org/10.1073/pnas.1506451112

Sulloway, F. J. 1996. Born to rebel: Birth order, family dynamics, and creative lives. Pantheon Books.

Sulloway, F. J. 2001. “Birth order, sibling competition, and human behavior”. In H. R. Holcomb (Ed.), Conceptual challenges in evolutionary psychology (pp. 39–83). Springer.

TENTANG PENULIS

  • Leo Dewa Hardana
    Leo Dewa Hardana 2026-01-11 21:18:42

    Leo Dewa Hardana adalah Junior Consultant dan Project Coordinator di IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre.

Bagikan

© 2017 IISA VISI WASKITA | Multiple Intelligences Consultant | Developed by Jasa Pembuatan Website.