Antara Benar dan Yakin: Dialektika Keyakinan
Ketika seseorang berkata “saya meyakini karena benar”, ia menempatkan kebenaran sebagai fondasi epistemik yang mendahului keyakinan. Sebaliknya, ungkapan “saya membenarkan karena yakin” menempatkan keyakinan sebagai motor legitimasi, bahkan bila kebenaran objektif belum teruji.
Bahasa, sebagaimana diingatkan Teun A. van Dijk, bukan sekadar alat komunikasi.1 Ia adalah jaring halus yang menjerat ideologi ke dalam pikiran sehari-hari. Kata “meyakini” mengandung tuntutan epistemik: bukti, konsistensi, koherensi. Kata “membenarkan” lebih performatif: ia berfungsi sebagai stempel sosial atas keyakinan yang sudah ada.
Dalam psikologi pengambilan risiko, Kahneman dan Tversky menunjukkan bahwa manusia lebih sering mempertahankan keyakinan yang memberi rasa aman emosional ketimbang kebenaran yang menantang.2 Keyakinan memberi ilusi kontrol. Kebenaran menuntut keberanian epistemik: menerima risiko bahwa keyakinan bisa runtuh bila bukti tak mendukung.
Fenomena ini nyata di ruang publik. Pew Research Center mencatat mayoritas warga lebih percaya informasi yang selaras dengan preferensi politik mereka.3 Karl Popper mengingatkan: komunitas ilmiah hanya sah bila berani falsifikasi.4
Motivasi, Belajar, dan Konflik Keyakinan
Mengapa orang lebih memilih membenarkan keyakinan daripada meyakini kebenaran? Deci dan Ryan menjelaskan: motivasi intrinsik lahir dari kebutuhan akan otonomi, kompetensi, dan keterhubungan.5 Membenarkan keyakinan sering kali memenuhi kebutuhan keterhubungan sosial—kita ingin diterima.
Namun, Piaget menekankan pentingnya disequilibrium: ketidaknyamanan kognitif yang memaksa individu merevisi skema berpikir.6 Meyakini karena benar adalah keberanian menghadapi disequilibrium.
Konflik pun muncul. Deutsch membedakan konflik destruktif—lahir dari rigiditas keyakinan—dengan konflik konstruktif, ketika keyakinan diuji bersama.7 Lyotard menambahkan: narasi besar runtuh oleh pluralitas perspektif.8 Membenarkan karena yakin adalah pertahanan terhadap runtuhnya narasi. Meyakini karena benar membuka ruang bagi pluralitas.
Dalam pendidikan kritis, Freire menegaskan: pendidikan sejati bukan indoktrinasi, melainkan dialog.9 Murid yang hanya membenarkan karena yakin mengikuti guru tanpa kritis. Murid yang meyakini karena benar berani berdialog, menemukan kebenaran bersama.
Integritas, Positivitas, dan Jalan Sistemik
Integritas, kata Stephen L. Carter, adalah “mengetahui apa yang benar, bertindak atas dasar itu, dan bersedia menanggung konsekuensinya.” 10 Meyakini karena benar adalah ekspresi integritas. Membenarkan karena yakin adalah ekspresi kebutuhan akan legitimasi sosial.
Psikologi positif, menurut Seligman, menekankan bahwa kebahagiaan sejati lahir dari hidup bermakna.11 Orang yang meyakini karena benar, meski kadang harus menanggung kesepian, justru lebih dekat pada makna.
Derrida mengingatkan: setiap teks terbuka pada dekonstruksi.12 Membenarkan karena yakin menutup ruang dekonstruksi. Meyakini karena benar mengakui bahwa kebenaran selalu bisa direvisi.
Solusi sistemik diperlukan. Pendidikan harus menekankan literasi epistemik. Ruang publik perlu mekanisme verifikasi independen seperti IFCN.13 Budaya organisasi harus menekankan integritas—HBR14 menunjukkan perusahaan dengan budaya integritas tinggi memiliki retensi lebih baik. Politik harus memperkuat sistem deliberatif ala Habermas.15
Penutup
Perbedaan antara “meyakini karena benar” dan “membenarkan karena yakin” bukan sekadar permainan kata. Ia adalah dilema epistemik manusia. Dari psikolinguistik hingga filsafat pasca-modern, dari motivasi hingga integritas, kita melihat kebenaran dan keyakinan beradu dalam ruang publik.
Solusi konkret menuntut pendidikan kritis, verifikasi independen, budaya integritas, dan demokrasi deliberatif. Dengan pendekatan humanis dan empatik, kita dapat membangun masyarakat yang berani meyakini karena benar, bukan sekadar membenarkan karena yakin.
Daftar Referensi
1. van Dijk, T. A. (1998). Ideology: A multidisciplinary approach. London: SAGE. Free PDF via Discourses.org. Diakses 20 November 2025. https://discourses.org/wp-content/uploads/2022/06/Teun-A.-van-Dijk-1998-Ideology.-A-Multidisciplinary-Approach.pdf
2. Kahneman, D., & Tversky, A. (1979). “Prospect theory: An analysis of decision under risk”. Econometrica, 47(2), 263–291. Free PDF via MIT. Diakses 20 November 2025. https://web.mit.edu/curhan/www/docs/Articles/15341_Readings/Behavioral_Decision_Theory/Kahneman_Tversky_1979_Prospect_theory.pdf
3. Pew Research Center. (2020). Americans’ trust in information sources. Diakses 20 November 2025. https://www.pewresearch.org
4. Popper, K. (1959). The logic of scientific discovery. London: Routledge. Free PDF via Philotextes. Diakses 20 November 2025. https://philotextes.info/spip/IMG/pdf/popper-logic-scientific-discovery.pdf
5. Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2000). “Self-determination theory and the facilitation of intrinsic motivation, social development, and well-being”. American Psychologist, 55(1), 68–78. Free PDF via SDT official site. Diakses 20 November 2025. https://selfdeterminationtheory.org/SDT/documents/2000_RyanDeci_SDT.pdf
6. Piaget, J. (1972). The psychology of the child. New York: Basic Books. Free access via Internet Archive. Diakses 20 November 2025. https://archive.org/details/psychologyofchil00piag_0
7. Deutsch, M. (1973). The resolution of conflict: Constructive and destructive processes. New Haven: Yale University Press. Free access via Internet Archive. Diakses 20 November 2025. https://archive.org/details/resolutionofconf0000deut
8. Lyotard, J.-F. (1979). The postmodern condition: A report on knowledge. Manchester: Manchester University Press. Free PDF via Monoskop. Diakses 20 November 2025. https://monoskop.org/images/e/e0/Lyotard_Jean-Francois_The_Postmodern_Condition_A_Report_on_Knowledge.pdf
9. Freire, P. (1970). Pedagogy of the oppressed. New York: Continuum. Free PDF via Internet Archive. Diakses 20 November 2025. https://ia801303.us.archive.org/8/items/PedagogyOfTheOppressed-English-PauloFriere/oppressed.pdf
10. Carter, S. L. (1996). Integrity. New York: Basic Books. Free access via Internet Archive. Diakses 20 November 2025. https://archive.org/details/integrity0000step
11. Seligman, M. E. P. (2002). Authentic happiness. New York: Free Press. Free PDF via Bookey CDN. Diakses 20 November 2025. https://cdn.bookey.app/files/pdf/book/en/authentic-happiness.pdf
12. Derrida, J. (1997). Of grammatology. Baltimore: Johns Hopkins University Press. Free PDF via Monoskop. Diakses 20 November 2025. https://monoskop.org/images/8/8e/Derrida_Jacques_Of_Grammatology_1998.pdf
13. International Fact-Checking Network. (2015). IFCN principles. Diakses 20 November 2025. https://ifcncodeofprinciples.poynter.org
14. Harvard Business Review. (2019). The business case for integrity. Diakses 20 November 2025. https://hbr.org
15. Habermas, J. (1996). Between facts and norms: Contributions to a discourse theory of law and democracy. Cambridge: MIT Press. Free PDF via WordPress. Diakses 20 November 2025. https://teddykw2.files.wordpress.com/2012/07/jc3bcrgen-habermas-between-facts-and-norms.pdf

TENTANG PENULIS
Edy Suhardono adalah Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Ia juga penggagas SoalSial. Ikuti ia di Facebook IISA dan Twitter IISA.