Rumah di Atas Pasir: Manusia dan Eskalasi Kebohongannya
Manusia dalam peran kuncinya—suami, istri, ibu, ayah, pasangan, pemimpin, pengkritik, oportunis, pembenci, atau penanggung jawab, apa pun peran kunci itu—sering kali ketahuan berbohong dan justru menutupinya dengan kebohongan baru. Fenomena ini bukan sekadar kelemahan moral, melainkan hasil interaksi kompleks antara mekanisme psikologis dalam, tekanan sosial, dan dinamika kognitif yang mendorong eskalasi kepalsuan demi pelestarian citra diri.
Sebagai psikolog yang telah berpraktik lebih dari 35 tahun, saya sering melihat kebohongan seperti benang kusut: sekali ditarik, simpul lain muncul. Klien yang berbohong kepada pasangannya, misalnya, merasa seperti sedang menambal dinding retak dengan cat tipis—retakan itu tetap ada, bahkan semakin melebar.
Berdasarkan riset psikologi sosial kognitif, klinis, serta moral, perilaku ini dapat dijelaskan melalui kerangka seperti disonansi kognitif, beban memori kerja, dan self-deception. Kebohongan awal memicu siklus defensif untuk menghindari konsekuensi baik emosional maupun relasional (Muñoz García et al., 2023; Walczyk et al., 2014).
Mekanisme Kognitif Penyebab Eskalasi Kebohongan
Pada tingkat dasar, kebohongan memerlukan usaha kognitif yang lebih besar daripada mengucapkan kebenaran. Activation-Decision-Construction-Action Theory (ADCAT) menggambarkan proses berbohong sebagai rangkaian tahap: aktivasi pengetahuan kebenaran, keputusan quasi-rasional untuk berbohong berdasarkan penilaian expected value (EV), konstruksi narasi palsu, dan aksi pengucapan (Walczyk et al., 2014).
Dalam praktik klinis, saya pernah menganalogikan kebohongan sebagai permainan catur melawan diri sendiri. Setiap langkah bohong adalah bidak yang dipindahkan untuk menghindari skak, tetapi semakin banyak bidak yang digerakkan, semakin sulit mengingat strategi.
Seorang suami yang berbohong tentang perselingkuhan harus menekan aktivasi kebenaran melalui inhibisi eksekutif prefrontal cortex, sambil menggunakan Theory of Mind (ToM) untuk memprediksi reaksi pasangan. Ketika kebohongan terbongkar sebagian, beban memori kerja meningkat karena ia harus mengingat versi palsu sambil menyesuaikan dengan bukti baru. Individu dengan kapasitas inhibisi rendah cepat runtuh, sementara yang berkapasitas tinggi justru memperpanjang siklus dengan lapisan kebohongan baru (Muñoz García et al., 2023).
Fenomena ini diperburuk oleh efek "lie escalation", di mana setiap kebohongan berturut-turut menambah kompleksitas kognitif. Misalnya, seorang ayah yang berbohong tentang pengeluaran keluarga menambahkan detail palsu tentang “investasi gagal”. Otaknya kesulitan membedakan antara kebenaran internal dan konstruksi eksternal. Pola ini mirip dengan anak usia 3–8 tahun yang mulai mampu menjaga konsistensi kebohongan berkat perkembangan ToM (Talwar & Lee, 2008).
Disonansi Kognitif sebagai Pendorong Utama
Teori Leon Festinger (1957) menyatakan bahwa ketidaksesuaian antara keyakinan (“Saya ayah yang bertanggung jawab”) dan perilaku (berbohong tentang ketidakhadiran) menciptakan ketegangan psikologis. Untuk meredakannya, individu sering mengubah keyakinan (self-justification) atau menambah kebohongan baru agar perilaku tampak koheren (Simply Psychology, 2025).
Saya sering menggambarkan disonansi ini kepada klien seperti suara sumbang dalam orkestra batin. Alih-alih memperbaiki nada, mereka menambah instrumen lain agar kebisingan terdengar “harmonis”.
Dalam peran pasangan, seorang istri yang ketahuan memanipulasi emosi akan menutupi dengan tuduhan balik palsu, mengubah disonansi menjadi “kami sama-sama salah”. Penelitian Prelec (2011) menunjukkan bahwa self-deception muncul sebagai strategi adaptif: pelaku meyakinkan diri bahwa kebohongan adalah “kebenaran subjektif”.
Seorang pemimpin korporat yang berbohong tentang laporan keuangan menambahkan data palsu untuk “membuktikan” visinya benar. Psikologi moral menambahkan konsep moral licensing, di mana satu kebohongan kecil dilisensikan oleh pembenaran moral, memicu eskalasi saat terbongkar (Holton, n.d.; Internet Encyclopedia of Philosophy, 2025).
Dinamika Sosial dan Moral dalam Peran Kunci
Dalam konteks sosial, faktor interpersonal memperbesar kecenderungan ini. Pelaku menggunakan ToM untuk mengantisipasi deteksi, tetapi saat gagal, kebohongan baru dirancang untuk memanipulasi persepsi target (National Geographic, 2025).
Sebagai ilustrasi, saya pernah menangani seorang pengkritik publik yang ketahuan memelintir fakta. Ia menutupi dengan serangan ad hominem palsu terhadap lawan, mempertahankan otoritasnya. Kebohongan berulang mengikis kapasitas moral self-regulation, menciptakan echo chamber internal yang membuat pengakuan mustahil (PMC, 2017).
Di Indonesia, budaya kolektivis memperkuat fenomena ini. Malu publik mendorong penutupan demi harmoni kelompok. Seorang pejabat yang terjerat kasus korupsi menutupi dengan narasi nasionalisme palsu, seolah-olah demi “kepentingan bangsa”.
Implikasi dan Pola Perkembangan
Pola ini bersifat universal sepanjang umur. Studi longitudinal menunjukkan transisi dari kebohongan sederhana ke kompleks pada usia sekolah, mencerminkan matangnya prefrontal cortex (Talwar & Lee, 2008).
Pada dewasa, faktor klinis seperti narcissistic personality disorder memperburuknya. Grandiosity mendorong kebohongan megah untuk dipertahankan. Intervensi seperti cognitive behavioral therapy (CBT) efektif dengan mengurangi disonansi melalui latihan pengakuan bertahap, meski resistensi tinggi dalam peran kunci.
Sebagai psikolog, saya sering mengibaratkan kebohongan sebagai rumah yang dibangun di atas pasir. Semakin tinggi bangunan, semakin rapuh fondasinya. Eskalasi kebohongan adalah upaya adaptif otak untuk navigasi dunia sosial kompleks, tetapi berujung destruktif karena akumulasi beban kognitif dan erosi moral.
Daftar Referensi
Achology. 2025. Understanding the Dynamics of Cognitive Dissonance.
Diakses 19 Desember 2025. https://achology.com/psychology/the-dynamics-of-cognitive-dissonance/
Ekman, Paul. 2025. Why People Lie | Reasons for Lying.
Diakses 19 Desember 2025. https://www.paulekman.com/blog/why-people-lie/
Festinger, Leon. 1957. A Theory of Cognitive Dissonance. Stanford: Stanford University Press.
Ringkasan tersedia di Simply Psychology. Diakses 19 Desember 2025. https://www.simplypsychology.org/cognitive-dissonance.html
Holton, Richard. n.d. Self-Deception and the Moral Self. Diakses 19 Desember 2025. https://rjh221.user.srcf.net/bibliography/pubs/sdms.pdf
Internet Encyclopedia of Philosophy. 2025. Ethics and Self-Deception. Diakses 19 Desember 2025. https://iep.utm.edu/eth-self/
Muñoz García, A., et al. 2023. The Role of Cognition in Dishonest Behavior. Brain Sciences 13(3): 394. Diakses 19 Desember 2025. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10046847/
National Geographic. 2025. Why We Lie: The Science Behind Our Deceptive Ways. Diakses 19 Desember 2025. https://www.nationalgeographic.com/magazine/article/lying-hoax-false-fibs-science.
Prelec, D. 2011. Protesting Too Much: Self-Deception and Self-Signaling. MIT Economics Working Paper. Diakses 19 Desember 2025. https://economics.mit.edu/sites/default/files/2022-09/Prelec_Protesting%20too%20much2011.pdf
PubMed Central (PMC). 2017. The Effect of Telling Lies on Belief in the Truth. Diakses 19 Desember 2025. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5763454/
Talwar, V., and K. Lee. 2008. Social and Cognitive Correlates of Children's Lying Behavior. Child Development. Diakses 19 Desember 2025. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3483871/
Walczyk, J. J., et al. 2014. “A Social-Cognitive Framework for Understanding Serious Lies: Activation-Decision-Construction-Action Theory (ADCAT)”. New Ideas in Psychology 34: 22–36. Diakses 19 Desember. https://core.ac.uk/download/pdf/82682646.pdf

TENTANG PENULIS
Edy Suhardono adalah Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Ia juga penggagas SoalSial. Ikuti ia di Facebook IISA dan Twitter IISA.