Selamat Datang di IISA - Assessment, Consultancy & Research Centre

  • (021) 537 3482 (BSD Tangerang) * WA BSD Tangerang: 0813 1888 2382

  • (021) 537 3482 (BSD Tangerang) * WA BSD Tangerang: 0813 1888 2382

Menari di Antara Gema Tren dan Bakat

Menari di Antara Gema Tren dan Bakat

Selama lebih dari empat dekade saya duduk di kursi ini—mendengar ribuan kisah, dari remaja yang bimbang memilih jurusan hingga eksekutif yang tersandung krisis paruh baya—saya menemukan satu benang merah yang terus menghantui. Ada pertarungan sunyi, tetapi kejam, di dalam kepala manusia: tarik-menarik antara “apa yang dunia gembar-gemborkan harus saya kejar” (tren) dan “apa yang sesungguhnya dirancang otak saya untuk dikuasai” (bakat).

Fenomena ini jauh melampaui sekadar dilema memilih kuliah atau pasangan hidup. Ia adalah krisis eksistensial. Sebagai praktisi yang menekuni irisan psikologi musik dan kognitif, saya melihat manusia seperti instrumen. Bila kita memainkan nada yang diminta pasar (tren) tetapi tidak sesuai resonansi tubuh (bakat), yang lahir bukan musik, melainkan kebisingan yang melelahkan: disonansi.

Mari kita bedah fenomena ini dengan pisau analisis yang tajam, melampaui nasihat klise “jadilah dirimu sendiri”.

Ilusi Keamanan dalam Kerumunan Mayoritas

Mengapa dorongan mengikuti tren—entah menjadi data scientist, pindah ke Bali, atau menikah muda—begitu kuat hingga menumpulkan akal sehat? Jawabannya ada pada biologi evolusi dan manipulasi bahasa.

Dalam psikologi evolusioner, kita mengenal Herding Behavior. Otak manusia dirancang untuk merasa aman dalam kawanan. Di masa prasejarah, terpisah dari kelompok berarti mati dimangsa predator. Kini, predator itu bernama “ketakutan akan kegagalan sosial”. Solomon Asch, lewat eksperimen konformitasnya (1951), menunjukkan bahwa orang cerdas sekalipun rela menyangkal indra mereka demi menyetujui mayoritas yang keliru.¹

Namun ada sisi lain yang jarang dibahas: psikolinguistik. Bahasa membentuk realitas. Kata “sukses” kini mengalami penyempitan makna. Dalam narasi pasca-modern, “sukses” sering disamakan dengan “visibilitas” dan “validasi eksternal”. Kita memilih jurusan yang terdengar keren di telinga tetangga, bukan yang terasa benar di sirkuit saraf kita.

Daniel Kahneman membedakan Sistem 1 (cepat, intuitif, emosional) dan Sistem 2 (lambat, logis). Mengikuti tren adalah jebakan Sistem 1: ia menawarkan cognitive ease, rasa nyaman semu.² Sedangkan memilih jalur bakat menakutkan, karena menuntut pembuktian tanpa jaminan tepuk tangan di awal. Akhirnya, banyak orang menukar potensi kejeniusan otentik dengan kenyamanan menjadi medioker di kerumunan. Itu bukan sekadar salah strategi; itu tragedi integritas.

Ongkos Mahal Mengkhianati Integritas Diri

Apa jadinya bila seseorang yang berbakat menulis sastra memaksa diri masuk teknik informatika karena “itu masa depan”? Atau musisi natural yang memilih jadi bankir demi stabilitas?

Dalam psikologi motivasi, ini disebut pengkhianatan terhadap True Self. Donald Winnicott menyebutnya False Self—topeng yang kita kenakan untuk memenuhi ekspektasi lingkungan.³ Awalnya topeng ini melindungi, lama-lama ia memakan wajah kita.

Secara kognitif, bekerja melawan bakat alami menciptakan gesekan mental konstan. Mihaly Csikszentmihalyi mendefinisikan Flow sebagai kondisi optimal ketika tantangan bertemu keterampilan tinggi.? Bila kita mengejar tren tanpa kompetensi dasar, Flow tak pernah tercapai. Yang ada hanya ayunan antara kecemasan (karena tak mampu) dan kebosanan (karena tak menjiwai).

Sisi gelap yang jarang diakui: sering kali kita memilih tren bukan karena menginginkannya, melainkan karena takut pada tanggung jawab dari bakat kita sendiri. Abraham Maslow menyebutnya The Jonah Complex—ketakutan akan kebesaran diri.? Bila mengikuti tren lalu gagal, kita bisa menyalahkan pasar. Tapi bila mengikuti bakat lalu gagal, ego kita hancur. Maka, menjadi pengikut tren adalah mekanisme pertahanan untuk menghindari risiko pembuktian diri.

Dampaknya: disonansi kognitif kronis. Leon Festinger menjelaskan bahwa manusia terdorong menjaga konsistensi antara keyakinan dan perilaku.? Ketika perilaku (karier pilihan tren) bertentangan dengan keyakinan internal (bakat asli), stres psikologis muncul, sering berujung burnout di usia 30-an atau krisis makna di usia 40-an.

Menuju Jalan Ketiga: Otentisitas Adaptif

Apakah solusinya menolak tren total dan hidup mengasingkan diri demi “seni”? Tidak. Pasca-modernisme menolak bineritas hitam-putih. Solusinya bukan memilih antara “Pasar” (tren) atau “Diri” (bakat), melainkan berdialektika di antara keduanya.

Saya menyebutnya Otentisitas Adaptif.

Teori Self-Determination dari Ryan dan Deci menekankan tiga kebutuhan dasar: Otonomi, Kompetensi, dan Keterhubungan. Ketiganya harus terpenuhi.?

  1. Diagnosis Forensik Bakat. Jangan hanya mengandalkan tes minat bakat lama. Gunakan refleksi kritis: di mana Anda belajar paling cepat dengan usaha paling sedikit? Di mana Anda kehilangan rasa waktu saat mengerjakannya? Itu jejak neurobiologis bakat Anda.
  2. Penyusupan Strategis. Jangan menolak tren, tapi tunggangi tren dengan bakat Anda. Bila berbakat melukis sementara tren teknologi, jangan buang kuas demi coding setengah hati. Jadilah desainer UI/UX atau seniman NFT. Gunakan medium tren untuk menyalurkan substansi bakat. Ini prinsip “Jujutsu Psikologis”—menggunakan energi pasar untuk melempar dampak Anda sendiri.
  3. Reformasi Pendidikan Keluarga. Solusi sistemik dimulai dari meja makan. Orangtua harus berhenti menjadi “agen humas” bagi anak (mendorong jurusan bergengsi demi status sosial) dan mulai menjadi “kurator bakat”. Paulo Freire mengajarkan kita membaca dunia, bukan sekadar kata.? Ajari anak (dan diri sendiri) membaca mengapa sesuatu menjadi tren, agar kita tidak jadi korban tren, melainkan pengamat cerdik.

Penutup

Dalam filsafat pasca-modern, tidak ada kebenaran tunggal tentang masa depan. Yang ada hanyalah narasi yang kita tulis. Memilih berdasarkan tren adalah plagiarisme eksistensial—menyalin hidup orang lain. Memilih berdasarkan kecerdasan dan bakat otentik adalah menulis biografi orisinal. Mungkin tidak selalu best-seller di mata tetangga, tetapi itu satu-satunya buku yang akan Anda baca ulang dengan senyum di akhir hayat.

Pilihlah untuk menjadi cerdas, bukan sekadar riuh.

Daftar Referensi

1. Asch, S. E. (1951). “Effects of group pressure upon the modification and distortion of judgments”. Dalam H. Guetzkow (Ed.), Groups, leadership and men. Carnegie Press. Diakses 24 November 2025. Internet Archive – The Asch Experiment (full text & video)

2. Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow. Farrar, Straus and Giroux. Diakses 24 November 2025. Internet Archive – Full text (djvu/txt format)

3. Winnicott, D. W. (1960). Ego distortion in terms of true and false self. The Maturational Processes and the Facilitating Environment. Diakses 24 November 2025. British Columbia Psychotherapy – PDF of original paper

4. Csikszentmihalyi, M. (1990). Flow: The Psychology of Optimal Experience. Harper & Row. Diakses 24 November 2025. Internet Archive – Full PDF

5. Maslow, A. H. (1971). The Farther Reaches of Human Nature. Viking Press. (Membahas The Jonah Complex). Diakses 24 November 2025. Internet Archive – Full book scan

6. Festinger, L. (1957). A Theory of Cognitive Dissonance. Stanford University Press. Diakses 24 November 2025. Internet Archive – Full text (djvu/txt format)

7. Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2000). “Self-determination theory and the facilitation of intrinsic motivation, social development, and well-being”. American Psychologist, 55(1), 68–78. Diakses 24 November 2025. Self-Determination Theory official site – PDF of original article

8. Freire, P. (1970). Pedagogy of the Oppressed. Continuum. Diakses 24 November 2025. Internet Archive – Full English PDF

TENTANG PENULIS

  • Edy Suhardono
    Edy Suhardono 2025-11-28 04:47:34

    Edy Suhardono adalah Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Ia juga penggagas SoalSial. Ikuti ia di Facebook IISA dan Twitter IISA.

Bagikan

© 2017 IISA VISI WASKITA | Multiple Intelligences Consultant | Developed by Jasa Pembuatan Website.