Salah Jurusan atau Salah Janji?
Ada sesuatu yang terasa ganjil setiap kali muncul daftar “jurusan kuliah paling disesali”. Yang langsung tertangkap biasanya adalah nama jurusannya. Yang luput diperhatikan justru kata disesali.
Ketika CNBC Indonesia mengutip hasil survei ZipRecruiter terhadap 1.500 lulusan perguruan tinggi yang sedang mencari kerja, nama-nama seperti jurnalisme, sosiologi, seni, komunikasi, pendidikan, hingga sastra Inggris muncul di deretan teratas jurusan yang paling banyak disesali lulusannya.¹
Sekilas, kesimpulannya tampak sederhana. Pilih jurusan itu, maka risiko menyesalnya besar. Hindari jurusan itu, maka masa depan lebih aman. Tetapi kenyataan jarang sesederhana itu.
Sebab kalau ditelisik lebih jauh, daftar tersebut tidak berisi bidang yang tidak berguna bagi masyarakat. Jurnalis membantu publik memahami kenyataan. Guru menyiapkan generasi berikutnya. Sosiolog membantu membaca perubahan sosial. Seniman memperkaya cara manusia memaknai hidup. Sulit mengatakan bahwa profesi-profesi itu tidak penting.
Yang sebenarnya sedang terjadi bukanlah kegagalan ilmu. Yang terjadi adalah benturan antara nilai sosial dan nilai ekonomi.
Georgetown University Center on Education and the Workforce dalam laporan The Major Payoff (2025) menunjukkan bahwa median penghasilan lulusan bidang STEM pada usia produktif mencapai sekitar US$98.000 per tahun, sementara bidang pendidikan dan pelayanan publik berada di kisaran US$58.000.² Perbedaan itu bukan sekadar angka statistik. Ia mencerminkan dua pengalaman hidup yang berbeda: lingkungan tempat tinggal yang berbeda, tingkat kecemasan finansial yang berbeda, bahkan pilihan masa depan yang berbeda.
Di titik ini, kata “penyesalan” menjadi menarik. Mungkin banyak lulusan sebenarnya tidak menyesali apa yang mereka pelajari. Mereka menyesali cerita yang pernah mereka percayai tentang apa yang akan mereka dapatkan setelah belajar.
Sebab sejak lama, pendidikan tinggi sering dipasarkan dengan narasi yang nyaris sama: pilih bidang yang Anda cintai, bekerja keras, maka masa depan akan mengikuti.
Masalahnya, dunia kerja tidak pernah menandatangani janji itu.
Federal Reserve dalam laporan Economic Well-Being of U.S. Households in 2023 menemukan bahwa banyak lulusan memang mengaku akan memilih jurusan berbeda jika memiliki kesempatan kedua.³ Namun menariknya, yang berubah sering kali bukan pandangan mereka terhadap pendidikan, melainkan kalkulasi mereka terhadap kehidupan setelah pendidikan.
Mereka tidak sedang mengutuk kampusnya. Mereka sedang menegosiasikan ulang harapan yang dulu mereka beli.
Barangkali daftar jurusan paling disesali selama ini dibaca secara keliru. Ia bukan daftar jurusan buruk. Ia lebih menyerupai daftar bidang yang paling sering berbenturan dengan ekspektasi ekonomi masyarakat modern.
Mitos Menemukan Bakat
Ada nasihat yang terdengar sangat bijaksana dan karena itu hampir tidak pernah dipertanyakan.
“Temukan bakatmu”.
Kalimat ini terdengar hangat, bahkan menghibur. Namun justru karena terlalu menghibur, ia jarang diuji.
Selama puluhan tahun, teori multiple intelligences dari Howard Gardner ikut memperkuat keyakinan bahwa setiap manusia memiliki jenis kecerdasan dominan yang dapat ditemukan, dipetakan, lalu dijadikan dasar menentukan masa depan. Kita mengenal istilah kecerdasan linguistik, musikal, interpersonal, kinestetik, dan sebagainya.
Gagasan itu begitu populer sehingga banyak sekolah, konselor pendidikan, hingga orangtua menerimanya hampir tanpa syarat.
Namun, dunia penelitian bergerak ke arah yang lebih rumit.
Dalam artikel Why Multiple Intelligences Theory Is a Neuromyth yang diterbitkan Frontiers in Psychology pada 2023, Lynn Waterhouse menunjukkan bahwa bukti neurologis yang kuat untuk mendukung keberadaan kecerdasan-kecerdasan yang berdiri sendiri sebagaimana dirumuskan Gardner belum pernah benar-benar ditemukan.? Bahkan sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kemampuan manusia jauh lebih saling terkait daripada yang selama ini dibayangkan.
Di sinilah ironi mulai muncul.
Teori yang awalnya dimaksudkan untuk membebaskan manusia dari label tunggal tentang kecerdasan, perlahan berubah menjadi label baru yang tidak kalah membatasi jika kita salah memaknainya.
Anak yang dianggap memiliki kecerdasan bahasa tinggi mulai diyakinkan bahwa masa depannya ada di bidang sosial atau humaniora. Anak yang unggul dalam angka diarahkan ke bidang teknik atau sains. Sedikit demi sedikit, kemungkinan-kemungkinan lain diam-diam ditutup. Padahal sejarah kehidupan manusia tidak pernah bergerak sesistematis itu.
Mengapa? Karena anak memiliki berbagai kemungkinan (possibility) yang ketika akan diubah menjadi pilihan harus dipertimbangkan dari sisi peluangnya (probability).
Banyak orang justru menemukan kemampuan terbaiknya setelah terlempar ke lingkungan yang sama sekali tidak mereka rencanakan. Ada penulis yang belajar menulis ketika bekerja sebagai jurnalis lapangan. Ada pengusaha yang baru mengenali bakat negosiasinya setelah berkali-kali gagal mencari pekerjaan. Ada ilmuwan yang awalnya masuk kampus tanpa keyakinan bahwa dirinya akan menjadi ilmuwan.
Dengan kata lain, bakat sering kali bukan titik awal.
Ia justru hasil sampingan dari perjalanan yang panjang.
Kajian kritis tentang multiple intelligences yang diterbitkan dalam TEM Journal tahun 2025 bahkan mencatat bahwa instrumen yang benar-benar mampu mengukur seluruh kecerdasan ala Gardner secara valid masih sangat terbatas.? Temuan ini jarang dibahas karena bertentangan dengan harapan banyak orang bahwa masa depan dapat dipetakan secara rapi sejak usia belasan tahun. Padahal hidup hampir tidak pernah memberikan kemewahan seperti itu.
Yang sering disebut “bakat” kadang hanyalah nama lain dari sesuatu yang terus dikerjakan cukup lama hingga akhirnya menjadi keahlian.
Kapan Dipakai, Kapan Dibuang?
Jika demikian, apakah multiple intelligences harus ditinggalkan sepenuhnya? Tidak. Tetapi kita perlu menempatkannya pada kursi yang tepat.
Teori ini sangat berguna ketika seseorang sedang mencoba mengenali dirinya. Ia dapat membantu siswa memahami cara belajar yang paling nyaman, kecenderungan minat yang lebih kuat, atau aktivitas yang membuat mereka lebih berenergi. Dalam konteks ini, multiple intelligences berfungsi sebagai alat refleksi.
Masalah muncul ketika ia berubah fungsi menjadi alat ramalan.
Begitu teori ini dipakai untuk memprediksi masa depan seseorang secara pasti, kita mulai memasuki wilayah yang tidak lagi didukung bukti ilmiah yang kuat.? ?
Karena itu, ada garis yang perlu ditarik dengan tegas.
Pertimbangan multiple intelligences sangat perlu digunakan ketika seseorang sedang mengeksplorasi minat, membangun kepercayaan diri belajar, memilih metode pengembangan diri, atau mencoba memahami kecenderungan pribadinya.
Sebaliknya, ia harus diabaikan ketika digunakan untuk menentukan batas kemampuan seseorang, memprediksi karier jangka panjang, atau menutup peluang mempelajari bidang yang dianggap tidak sesuai dengan profil kecerdasannya.
Penelitian tentang person-environment fit justru menawarkan pelajaran yang lebih menarik. Berbagai studi menunjukkan bahwa kepuasan dan keberhasilan karier lebih banyak terkait dengan kesesuaian antara individu dan lingkungannya daripada sekadar kecocokan dengan label bakat tertentu.?
Yang dimaksud kesesuaian di sini tidak hanya kemampuan teknis. Ia mencakup nilai hidup, budaya kerja, relasi sosial, ruang berkembang, serta perasaan bahwa pekerjaan tersebut memiliki makna bagi dirinya.
Di titik ini, pemahaman yang agak mengejutkan mulai terlihat.
Kesuksesan ternyata bukan hadiah bagi mereka yang menemukan bakat paling cepat.
Kesuksesan lebih sering menjadi milik mereka yang paling lentur menghadapi perubahan.
Jurusan berubah nilainya. Teknologi mengubah pasar. Profesi baru lahir. Profesi lama menghilang. Dalam dunia yang bergerak secepat itu, kemampuan belajar ulang bisa lebih berharga daripada kecocokan bakat yang diyakini sejak remaja.
Karena itu, mungkin pertanyaan terbesar bukanlah apakah seseorang salah jurusan.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apakah ia cukup siap menjadi versi baru dari dirinya ketika dunia berhenti menghargai versi lama?
Pertanyaan itu memang tidak muncul dalam brosur penerimaan mahasiswa baru. Tetapi justru di sanalah kenyataan sering menunggu.
Catatan Akhir:
1. CNBC Indonesia, “Daftar 10 Jurusan Kuliah Paling Disesali Mahasiswa Setelah Lulus”, 25 Juli 2026. Diakses 10 Agustus 2026. Tautan: https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20260725110236-33-753753/daftar-10-jurusan-kuliah-paling-disesali-mahasiswa-setelah-lulus. Daftar ini sering dibaca sebagai bukti bahwa beberapa disiplin ilmu gagal menghasilkan masa depan yang layak. Padahal survei tersebut lebih banyak mengungkap benturan antara ekspektasi pendapatan dan realitas pasar kerja yang berubah cepat. Yang disesali sering kali bukan ilmunya, melainkan narasi sosial yang selama bertahun-tahun menjanjikan bahwa pendidikan tinggi secara otomatis berujung pada mobilitas ekonomi.
2. Georgetown University Center on Education and the Workforce, The Major Payoff: Evaluating Earnings and Employment Outcomes Across Bachelor’s Degrees (2025). Diakses 10 Agustus 2026. Tautan: https://cew.georgetown.edu/cew-reports/major-payoff/. Temuan tentang jurang pendapatan antarbidang studi menunjukkan bahwa pasar memberi penghargaan berbeda pada jenis kompetensi yang berbeda. Namun nilai pasar dan nilai sosial bukanlah konsep yang identik. Ironisnya, profesi yang menopang kohesi sosial dan kualitas demokrasi sering kali menghasilkan imbal hasil ekonomi yang lebih rendah dibanding profesi yang terutama menciptakan efisiensi ekonomi.
3. Board of Governors of the Federal Reserve System, Report on the Economic Well-Being of U.S. Households in 2023 (Washington, DC: Federal Reserve Board, May 2024). Diakses 10 Agustus 2026. Tautan: https://www.federalreserve.gov/publications/report-economic-well-being-us-households.htm. Fakta bahwa banyak lulusan ingin memilih jurusan berbeda sering dianggap sebagai kegagalan pendidikan tinggi. Padahal temuan yang lebih menarik adalah mereka tetap mengakui manfaat pendidikan itu sendiri. Ini mengisyaratkan bahwa yang sedang dipersoalkan masyarakat bukan lembaga pendidikan, melainkan ketidakpastian hubungan antara pendidikan dan kesejahteraan ekonomi.
4. Lynn Waterhouse, “Why Multiple Intelligences Theory Is a Neuromyth”, Frontiers in Psychology 14 (2023). Diakses 10 Agustus 2026. Tautan: https://www.frontiersin.org/articles/10.3389/fpsyg.2023.1217288/full. Popularitas sebuah teori sering membuat masyarakat menganggapnya telah terbukti secara ilmiah. Artikel ini mengingatkan bahwa popularitas dan validitas adalah dua hal yang sama sekali berbeda. Yang lebih mengganggu lagi, keyakinan terhadap teori yang lemah kadang justru menghalangi pencarian pendekatan pendidikan yang lebih berbasis bukti.
5. Hiba Harb, Murielle El Hajj, Abdulqader Alyasin, dan Ramzi Nasser, “Multiple Intelligences Theory and Educational Implications: A Critical Review”, TEM Journal 14, no. 3 (2025). Diakses 10 Agustus 2026. Tautan: https://www.temjournal.com/content/143/TEMJournalAugust2025_2557_2569.pdf. Ulasan ini menunjukkan bahwa tantangan terbesar teori multiple intelligences bukan hanya soal konsep, tetapi juga soal pengukuran. Banyak pihak yakin telah menemukan kecerdasan dominan seseorang, sementara instrumen yang digunakan masih diperdebatkan validitasnya. Dengan kata lain, rasa percaya diri terhadap hasil tes sering kali lebih besar daripada kualitas bukti yang mendasarinya.
6. Yuanli Xu et al., “How Does Person-Environment Fit Relate to Career Calling? The Role of Psychological Contracts and Organizational Career Management,” Psychology Research and Behavior Management 16 (2023). Diakses 10 Agustus 2026. Tautan: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10163889/; Fabian Gander, Jennifer Hofmann, dan Willibald Ruch, “Character Strengths: Person-Environment Fit and Relationships With Job and Life Satisfaction”, Frontiers in Psychology 11 (2020). Diakses 10 Agustus 2026. Tautan: https://www.frontiersin.org/articles/10.3389/fpsyg.2020.01582/full. Penelitian tentang person-environment fit menggeser fokus dari pencarian bakat tunggal menuju kualitas hubungan antara individu dan lingkungannya. Perspektif ini mengandung implikasi yang radikal: kebahagiaan karier mungkin lebih ditentukan oleh kecocokan yang terus dibangun daripada identitas yang telah ditemukan. Jika demikian, pertanyaan “siapa saya?” bisa jadi kurang penting dibanding pertanyaan “di lingkungan seperti apa saya bisa terus bertumbuh?”

ABOUT THE AUTHOR
Edy Suhardono adalah Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Ia juga penggagas SoalSial. Ikuti ia di Facebook IISA dan Twitter IISA.