Ketika Pertemanan Anak Menjadi Kecemasan Orangtua
Ada sesuatu yang agak ganjil pada keluarga urban hari ini: orangtua sering kali lebih gelisah mendengar anaknya berkata, “Aku enggak punya teman,” daripada melihat nilai matematikanya turun.
Kecemasan itu tidak sepenuhnya mengada-ada. Studi Verity, Burke, dan Qualter dari University of Manchester (2025) menegaskan bahwa masa remaja sangat peka terhadap kesepian karena identitas sedang dibentuk dan sensitivitas pada penilaian sebaya meninggi.¹ Namun, mungkin kita terlalu rajin memeriksa anak dan luput menginterogasi diri sendiri tentang dunia yang kita bangun untuknya.
Statistik memberikan alasan untuk waswas sekaligus salah sasaran. Laporan WHO Regional Office for Europe (2024) terhadap 279.117 anak menunjukkan proporsi remaja dengan dukungan teman sebaya tinggi turun dari 61 persen pada 2018 menjadi 58 persen pada 2022.² Alih-alih menyebutnya sekadar krisis generasi muda, angka ini memancing pertanyaan kritis: bagaimana jika yang menurun bukan kecakapan sosial anak, melainkan kemampuan dunia orang dewasa dalam menyediakan ekologi untuk anak-anak berelasi?
Kecurigaan ini makin relevan ketika tata kota diperiksa. Scoping review dari Lu dan van Ameijde (2025) menemukan bahwa kota berkepadatan tinggi membatasi ruang bermain anak akibat langkanya ruang publik, jalan yang padat, dan kekhawatiran soal keselamatan.³ Ironinya cukup perih: kita berhasil memadatkan ribuan manusia dalam satu kilometer persegi, tetapi pertemuan seorang anak dengan anak lain kini harus didahului pesan WhatsApp antarorangtua.
Pertemanan anak pelan-pelan mengalami privatisasi. Pertemuan yang dahulu muncul spontan di gang atau lapangan, kini mensyaratkan jadwal, kelas berbayar, dan kompatibilitas kalender. Padahal, akses ke ruang bermain justru memberi kesempatan natural untuk menjalin pertemanan baru.? Playdate dengan demikian bukanlah penanda kemajuan sosial, melainkan kuitansi hilangnya spontanitas sosial di lanskap urban.
Indonesia menghadirkan ironi yang unik. Riset Laksono, Rukmi, dan Parlindungan di Kampung Warna-Warni (2023) menunjukkan bahwa anak-anak di sana bebas memanfaatkan lingkungan permukiman sebagai ruang bermain yang ramah anak, terlepas dari kecemasan orangtua akan keselamatan anak di sekitar sungai.? Ini membuktikan bahwa ruang bermain bagi anak tidak selalu identik dengan fasilitas mahal yang sengaja dirancang orang dewasa.
Anak Kesepian atau Orangtua Kehilangan Kendali?
Namun, kota hanya separuh perkara; separuh lainnya tertanam di kepala orangtua. Studi Friedman, Bilsky, dan Luber (2023) menemukan bahwa kecemasan orangtua berasosiasi dengan anxious rearing behavior yang disetir oleh keyakinan mereka tentang kemampuan sang anak.? Temuan ini menyodorkan realitas tak nyaman: sering kali anggapan bahwa “anak tak mampu menghadapi dunia” hanyalah proyeksi ketakutan kita melepaskan mereka tanpa perlindungan.
Di sinilah parenting kontemporer tampak paradoksal. Kita mengajarkan kemandirian dan keterampilan menyelesaikan masalah, tapi langsung tergoda menelepon wali kelas saat anak tidak diajak bermain. Overproteksi mencegah anak mendapatkan sedikit “memar sosial” yang justru penting untuk melatih resiliensi.?
Itulah mengapa konsep “intervensi” juga patut dicurigai. Meta-analisis Zahl-Olsen dkk. (2023) membuktikan bahwa memperbaiki persoalan anak tidak selalu berarti menjadikan sang anak sebagai objek perbaikan, tetapi justru dengan mengevaluasi dan mengubah perilaku serta cara pengasuhan orang dewasa.?
Selain itu, kesendirian tidak sama persis dengan kesepian. Verity dkk. mengingatkan pentingnya fase positive alone time bagi remaja untuk regulasi emosi dan penemuan diri.? Jika seorang anak merasa nyaman membaca sendirian, orangtua tidak perlu panik. Jangan-jangan, yang sedang cemas justru sang orangtua yang membutuhkan validasi kasatmata bahwa anaknya cukup populer.
Jumlah kawan pun mudah menipu. Penelitian Keqin Zhang (2023) pada remaja Indonesia menemukan bahwa rasa kesepian sangat berkaitan dengan posisi anak di dalam kelompok serta status kelompok tersebut, bukan sekadar jumlah pertemanan.¹? Hal ini memunculkan fenomena social-capital parenting, di mana orangtua secara halus mengkurasi jejaring sosial anak layaknya portofolio investasi—sejajar dengan les bahasa, renang, atau piano—agar si anak tidak tertinggal secara sosial.¹¹
Tidak Kekurangan Teman, tetapi Kekurangan Dunia
Karena ruang publik menipis, sekolah mendapat limpahan tugas ekstra yang dahulu dipikul oleh gang perumahan atau lapangan, dituntut bertransformasi menjadi semacam “pabrik belonging” (OECD, 2024).¹²
Sayangnya, pabrik ini rawan memproduksi hierarki dan perisakan (bullying) (OECD, 2026).¹³ Mengirimkan anak untuk mengikuti kelas social skills karena ia kesulitan berteman di sekolah yang toksik sama absurdnya dengan menyuruh orang belajar berenang karena atap rumahnya bocor.
Ironi ini diperparah oleh melonjaknya beban akademik dan menurunnya support system, di mana remaja—terutama perempuan—merasa sangat tertekan di sekolah, tetapi kekurangan dukungan dari guru, merujuk data WHO (2024).¹? Kita terus menambah tuntutan akademik institusional tanpa menyadari bahwa ruang psikologis remaja untuk sekadar berteman kian terjepit.
Bagi Indonesia, ini bukan isu sepele. Laporan UNICEF (2025) menekankan perlunya menata kesehatan mental dan integrasi sosial 46 juta remaja secara struktural, yang tak akan beres hanya dengan memperbanyak sistem screening alias deteksi berbasis sekolah.¹?
Jalan keluarnya, karenanya, mungkin bukanlah mendatangi seminar parenting baru. Solusinya dapat berwujud hal-hal yang terlalu sederhana untuk dimuat di brosur psikologi: mengembalikan trotoar yang aman, lapangan hijau yang tak perlu disewa per jam, sekolah dengan jam jeda yang cukup, serta memberikan beberapa sore yang lengang saat hidup anak tidak sedang “dioptimalkan”. Aksesibilitas dan karakter ruang inklusif terbukti amat menentukan pengalaman bermain anak (Lu & van Ameijde, 2025).¹?
Jika hakikat persahabatan adalah keberanian untuk menemukan orang lain tanpa kepastian akan diterima, pekerjaan utama orang dewasa sejatinya bukan mencarikan anak mereka teman. Kita hanya perlu memulihkan dan mengembalikan dunia yang lapang, tempat di mana pertemanan spontan masih bisa terjadi secara natural tanpa intervensi kita sebagai “panitia penyelenggara”.
Catatan Akhir
1. Lily Verity, Lauren Burke, and Pamela Qualter, “Loneliness in Adolescence: Prevalence, Developmental Contexts, and Interventions,” Frontiers in Psychiatry 16 (2025). Kesepian remaja lebih dipengaruhi oleh kualitas dan ekspektasi relasi daripada sekadar kurangnya kontak sosial. Diakses 21 September 2026. Tautan: https://www.frontiersin.org/journals/psychiatry/articles/10.3389/fpsyt.2025.1696981/full?utm_source=gemini
2. WHO Regional Office for Europe, “Rising School Pressure and Declining Family Support Especially among Girls, Finds New WHO/Europe Report,” November 13, 2024. Diakses 21 September 2026. Tautan: https://www.who.int/europe/news/item/13-11-2024-rising-school-pressure-and-declining-family-support-especially-among-girls--finds-new-who-europe-report?utm_source=gemini
3. Pengyu Lu and Jeroen van Ameijde, “The Impact of High-Density Urban Environments on Children’s Play, a Systematic Review of Current Insights,” Cities & Health (2025). Keterbatasan ruang publik dan jalanan yang padat mempersempit peluang bersosialisasi secara geografis. Diakses 21 September 2026. Tautan: https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/23748834.2024.2441554
4. Ibid.
5. S. M. Laksono, W. I. Rukmi, and J. Parlindungan, “Child-Friendly Space in Kampung Warna-Warni through Playing Behavior of Children Approach,” International Journal of Humanities Education and Social Sciences 3, no. 3 (2023). Ketegangan alami terjadi antara kebebasan bermain dengan kecemasan orangtua terkait keselamatan. Diakses 21 September 2026. Tautan: https://ijhess.com/index.php/ijhess/article/view/647
6. Hannah P. Friedman, Sarah A. Bilsky, and Maxwell J. Luber, “Parent Anxiety, Child Anxiety, Parental Beliefs about Anxiety, and Parenting Behaviors,” Journal of Child and Family Studies (2023). Diakses 21 September 2026. Tautan: https://www.researchgate.net/publication/373631010_Parent_Anxiety_Child_Anxiety_Parental_Beliefs_about_Anxiety_and_Parenting_Behaviors_Examining_Direct_and_Indirect_Associations
7. Ibid. Paradoks perlindungan berlebih (overprotection) yang justru menghilangkan kesempatan anak untuk belajar menoleransi risiko.
8. Rune Zahl-Olsen et al., “Effects of Emotionally Oriented Parental Interventions: A Systematic Review and Meta-analysis,” Frontiers in Psychology 14 (2023). Diakses 21 September 2026. Tautan: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10374204/?utm_source=gemini
9. Verity, Burke, and Qualter, “Loneliness in Adolescence.” Diakses 21 September 2026. Tautan: https://www.frontiersin.org/journals/psychiatry/articles/10.3389/fpsyt.2025.1696981/full?utm_source=gemini
10. Keqin Zhang, Friendship, Peer Group Involvement, and Loneliness of Indonesian Adolescents (M.S. thesis, Purdue University, 2023). Status dalam hierarki kelompok jauh lebih menentukan rasa belonging ketimbang jumlah teman. Diakses 21 September 2026. Tautan: https://hammer.purdue.edu/articles/thesis/_b_Friendship_peer_group_Involvement_and_loneliness_of_Indonesian_adolescents_b_/24512659?utm_source=gemini&file=43055005
11. Ibid.
12. OECD, The PISA Happy Life Dashboard: Visualising Key Indicators on Student Well-being from the PISA Survey (2024). Kesuksesan prestasi yang abai terhadap rasa belonging justru memicu bayaran psikologis yang mahal. Diakses 21 September 2026. Tautan: https://one.oecd.org/document/EDU/PISA/GB(2024)1/en/pdf?utm_source=gemini
13. OECD, Bullying in Education: Prevalence, Impact and Responses across Countries (2026). Diakses 21 September 2026. Tautan: https://www.oecd.org/en/publications/bullying-in-education_d9f8bd9f-en.html
14. WHO Regional Office for Europe, “Rising School Pressure.” Diakses 21 September 2026. Tautan: https://www.who.int/europe/news/item/13-11-2024-rising-school-pressure-and-declining-family-support-especially-among-girls--finds-new-who-europe-report?utm_source=gemini
15. UNICEF, Indonesia Adolescent Health Profile 2024 (March 2025). Deteksi tidaklah sama maknanya dengan pencegahan. Diakses 21 September 2026. Tautan: https://www.unicef.org/indonesia/health/reports/adolescent-health-profile
16. Lu and van Ameijde, “Impact of High-Density Urban Environments.” Kompetensi sosial membutuhkan arena, gesekan, dan peluang nyata untuk sesekali gagal. Diakses 21 September 2026. Tautan: https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/23748834.2024.2441554

TENTANG PENULIS
Edy Suhardono adalah Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Ia juga penggagas SoalSial. Ikuti ia di Facebook IISA dan Twitter IISA.