Selamat Datang di IISA - Assessment, Consultancy & Research Centre

  • (021) 537 3482 (BSD Tangerang) * WA BSD Tangerang: 0813 1888 2382

  • (021) 537 3482 (BSD Tangerang) * WA BSD Tangerang: 0813 1888 2382

Ketika Anak Menikah, Siapa yang Sebenarnya Ditinggalkan?

Ketika Anak Menikah, Siapa yang Sebenarnya Ditinggalkan?

Ada kehilangan yang tidak diawali kematian. Tidak ada ambulans, tidak ada kabar duka, tidak ada karangan bunga. Seorang anak menikah, lalu perlahan rumah yang dulu menjadi tujuan utama berubah menjadi salah satu tujuan di antara banyak tujuan.

Banyak orangtua mengira yang hilang adalah cinta. Padahal sering kali yang hilang hanyalah posisi. Anak yang dahulu menjadikan orangtua sebagai pusat segala keputusan kini mulai memusatkan hidupnya pada orang lain: pasangan, anak-anaknya, dan keluarga yang sedang ia bangun.

Di sinilah kesalahpahaman paling tua dalam sejarah keluarga muncul. Kita menganggap kedekatan sebagai hadiah atas pengorbanan masa lalu. Sementara kehidupan dewasa diam-diam memperlakukan kedekatan sebagai hasil dari keterlibatan pada masa kini.

Mungkin karena itulah pernikahan sering terasa paradoksal. Ia merupakan bukti keberhasilan pengasuhan sekaligus sumber kesepian yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya.

Orbit yang Bergeser

Kebanyakan orang membayangkan keluarga sebagai tempat tinggal. Namun, dari sudut pandang perkembangan manusia, keluarga sesungguhnya lebih menyerupai landasan peluncuran. Ia dibangun bukan agar anak menetap selamanya, melainkan agar suatu hari anak mampu pergi.

Masalahnya, hampir semua orangtua mendukung kemandirian secara teoritis tetapi tidak selalu siap menghadapi konsekuensinya secara emosional. Mereka ingin anak menjadi dewasa, tetapi tetap berharap menjadi pusat dunia anak tersebut.

Penelitian Patricia A. Thomas, Hui Liu, dan Debra Umberson menunjukkan bahwa dalam kehidupan dewasa, hubungan perkawinan menjadi salah satu sumber utama dukungan emosional, kesejahteraan, dan stabilitas psikologis seseorang.¹ Ketika pernikahan berjalan baik, pasangan secara alamiah menjadi figur keterikatan yang paling sering diakses dalam menghadapi tekanan hidup.

Di titik itu, yang berubah bukan kadar kasih sayang kepada orangtua. Yang berubah adalah distribusi perhatian. Waktu, energi, dan keterlibatan emosional yang dahulu sangat terpusat pada keluarga asal kini harus dibagi kepada keluarga baru yang menuntut komitmen harian

Ironisnya, orangtua sering merasa sedang kehilangan anak. Padahal yang sesungguhnya hilang adalah hak istimewa untuk selalu menjadi prioritas pertama.

Pernikahan, dengan demikian, bukan sekadar penyatuan dua individu. Ia adalah pemindahan pusat gravitasi. Dan sebagaimana semua perubahan orbit, proses itu hampir selalu menimbulkan rasa kehilangan pada pihak yang ditinggalkan.

Mertua yang Tidak Bersalah

Dalam banyak cerita keluarga, mertua kerap tampil sebagai tersangka utama. Ketika seorang anak lebih sering mengunjungi keluarga pasangan dibanding keluarganya sendiri, penjelasan paling mudah biasanya berbunyi: anak telah dipengaruhi.

Namun, penjelasan yang mudah tidak selalu merupakan penjelasan yang benar.

Kajian Karen L. Fingerman, Meng Huo, dan Kira S. Birditt mengenai perkembangan hubungan antargenerasi selama satu dekade menunjukkan bahwa perubahan teknologi, pola kerja, mobilitas sosial, lokasi tempat tinggal, dan struktur keluarga telah mengubah cara orangtua dan anak dewasa berhubungan.² Kedekatan semakin ditentukan oleh frekuensi interaksi dan keterlibatan sehari-hari, bukan sekadar oleh status biologis.

Artinya, orang yang lebih sering hadir mempunyai peluang lebih besar untuk menjadi penting. Hubungan emosional yang kuat sering kali lahir bukan dari momen-momen besar, melainkan dari akumulasi bantuan kecil yang diberikan berulang kali.

Dari sudut pandang ini, mertua yang tampak “lebih dekat” belum tentu sedang merebut siapa pun. Mereka mungkin hanya lebih sering muncul dalam kehidupan sehari-hari pasangan muda tersebut. Mereka membantu menjaga cucu, menemani urusan rumah tangga, atau sekadar menjadi tempat singgah setelah hari yang melelahkan.

Pandangan ini memang kurang dramatis. Tidak ada tokoh jahat yang bisa disalahkan. Namun justru karena itu, barangkali ia lebih mendekati kenyataan.

Banyak keluarga berasumsi bahwa hubungan darah otomatis menciptakan kedekatan. Padahal penelitian Karen L. Fingerman, Jori Sechrist, dan Kira Birditt menunjukkan bahwa hubungan antargenerasi modern semakin ditentukan oleh kualitas interaksi, pertukaran dukungan, dan frekuensi kontak yang terus diperbarui.³ Hubungan biologis menciptakan peluang untuk dekat, tetapi tidak menjamin kedekatan itu sendiri.

Dengan kata lain, darah membentuk silsilah. Kehadiran membentuk kelekatan.

Sepi yang Membesar

Perubahan ini terasa paling tajam pada keluarga yang kecil. Terutama ketika hanya ada satu atau dua anak.

Keluarga kecil menikmati keintiman yang sulit ditemukan dalam keluarga besar. Namun kelebihan itu memiliki harga yang jarang dibicarakan. Ketika pusat perhatian selama puluhan tahun bertumpu pada satu anak, perubahan kecil dalam pola komunikasi dapat terasa seperti kehilangan yang sangat besar.

Itulah sebabnya orangtua anak tunggal sering mengalami rasa sepi yang lebih dalam setelah anak menikah. Bukan karena anak mereka lebih menjauh daripada anak-anak lain, melainkan karena tidak ada saudara lain yang mengisi ruang kosong yang muncul.

Perbedaan juga terlihat pada aspek gender.

Penelitian Karen L. Fingerman, Meng Huo, dan Kira S. Birditt mengenai hubungan antargenerasi menunjukkan bahwa anak perempuan cenderung lebih aktif menjaga komunikasi, memberikan dukungan emosional, dan mempertahankan keterlibatan dengan orangtua dibanding anak laki-laki.? Temuan serupa juga muncul dalam berbagai studi keluarga lintas generasi.5

Namun, kesimpulan bahwa anak perempuan lebih berbakti mungkin terlalu sederhana.

Kemungkinan lain jauh lebih menarik. Sejak kecil, perempuan lebih sering dilatih menjadi penjaga hubungan. Mereka mengingat ulang tahun keluarga, menanyakan kabar, menjadi perantara konflik, dan menjaga ritme komunikasi. Sementara laki-laki lebih sering didorong untuk mengejar kemandirian dan pencapaian individual.

Jika demikian, perbedaannya bukan terletak pada besarnya cinta. Perbedaannya terletak pada keterampilan memelihara hubungan yang selama bertahun-tahun dipelajari secara berbeda.

Pada akhirnya, mungkin kita perlu meninjau ulang cara membaca kerenggangan setelah pernikahan. Tidak semua jarak merupakan tanda berkurangnya kasih sayang. Tidak semua kedekatan merupakan bukti cinta yang lebih besar.

Kadang-kadang, yang sedang terjadi hanyalah perubahan posisi dalam kehidupan seseorang.

Mungkin di situlah paradoks yang paling sulit diterima oleh setiap orangtua: anak yang berhasil dibesarkan memang tidak ditakdirkan untuk tinggal selamanya di dalam orbit mereka.

Ia ditakdirkan untuk menciptakan orbitnya sendiri.

Catatan Akhir

1. Patricia A. Thomas, Hui Liu, dan Debra Umberson, “Family Relationships and Well-Being”, Innovation in Aging 1, no. 3 (2017): igx025. Diakses 27 Juli 2026. Tautan: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5954612/. Literatur keluarga modern berulang kali menunjukkan bahwa kesejahteraan seseorang lebih dipengaruhi oleh kualitas relasi daripada struktur biologis keluarganya. Yang menentukan bukan siapa anggota keluarga kita, melainkan bagaimana hubungan itu dijalani

2. Karen L. Fingerman, Meng Huo, dan Kira S. Birditt, “A Decade of Research on Intergenerational Ties: Technological, Economic, Political, and Demographic Changes”, Journal of Marriage and Family 82, no. 1 (2020): 383–403. Diakses 27 Juli 2026. Tautan: https://escholarship.org/content/qt8tb366rf/qt8tb366rf.pdf. Temuan yang paling mengusik dari artikel ini bukan bahwa keluarga berubah, melainkan bahwa perubahan sosial—teknologi, ekonomi, dan mobilitas—sering lebih menentukan pola hubungan keluarga daripada nilai-nilai yang selama ini diyakini keluarga tentang dirinya sendiri.

3. Karen L. Fingerman, Jori Sechrist, dan Kira Birditt, “Changing Views on Intergenerational Ties”. Gerontology 59, no. 1 (2013): 64–70. Diakses 27 Juli 2026. Tautan: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4480642/. Hubungan orangtua–anak dewasa semakin tidak dapat dijelaskan hanya melalui konsep kewajiban keluarga. Kedekatan lebih sering merupakan hasil dari interaksi yang terus diperbarui daripada konsekuensi otomatis dari hubungan darah.

4. Rin Reczek, Lawrence Stacey, dan Mieke Beth Thomeer, “Parent-Adult Child Estrangement in the United States by Gender, Race/Ethnicity, and Sexuality”, Journal of Marriage and Family 85, no. 2 (2023): 494–517. Diakses 27 Juli 2026. Tautan: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10254574/. Tingginya angka keterputusan hubungan ayah–anak menunjukkan bahwa ancaman terbesar terhadap keberlangsungan keluarga modern belum tentu berasal dari pihak luar seperti pasangan atau mertua, melainkan dari kegagalan mempertahankan investasi emosional dalam jangka panjang.

5. Karen L. Fingerman, Meng Huo, dan Kira S. Birditt, “Mothers, Fathers, Daughters, and Sons: Gender Differences in Adults’ Intergenerational Ties”. Journal of Family Issues 41, no. 9 (2020): 1597–1625. Diakses 27 Juli 2026. Tautan: https://escholarship.org/content/qt90t1q2cj/qt90t1q2cj.pdf?t=sq6n06. Temuan bahwa anak perempuan umumnya lebih aktif menjaga hubungan keluarga dapat dibaca bukan sebagai keunggulan moral, melainkan sebagai hasil dari pembagian kerja emosional yang diwariskan dan dinormalisasi selama beberapa generasi.

TENTANG PENULIS

  • Edy Suhardono
    Edy Suhardono 2026-07-29 10:30:02

    Edy Suhardono adalah Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Ia juga penggagas SoalSial. Ikuti ia di Facebook IISA dan Twitter IISA.

Bagikan

© 2017 IISA VISI WASKITA | Multiple Intelligences Consultant | Developed by Jasa Pembuatan Website.