Siapakah Penjaga Terakhir Relasi Nyata?
Ada sesuatu yang sedikit nakal—hampir memberontak—ketika seorang berusia 66 tahun justru menjadi pihak yang paling rajin datang berkunjung. Ia seperti membalik diam-diam hukum moral yang dulu terasa sakral: bahwa anak harus datang, bukan didatangi. Namun barangkali kita terlalu cepat menyebut ini sebagai kemunduran nilai. Bisa jadi, ini bukan soal siapa gagal menjalankan perannya, melainkan soal bagaimana peran itu sendiri telah diam-diam dirombak oleh realitas sosial yang baru. Dan seperti banyak perubahan lain hari ini, ia terjadi tanpa deklarasi.
Alih-alih membacanya sebagai krisis filial piety,1 lebih masuk akal melihatnya sebagai reposisi aliran dukungan dalam keluarga modern. Laporan Pew Research Center menunjukkan bahwa di banyak masyarakat yang menua, orangtua justru semakin sering menjadi sumber dukungan bagi anak dewasa—baik secara emosional, finansial, maupun praktis.2 Pola ini mengguncang asumsi klasik bahwa ketergantungan selalu mengalir dari muda ke tua. Anak-anak tidak sepenuhnya “mandiri”; mereka justru sering menopang hidup mereka dengan bantuan yang tak terlihat dari orangtua. Dalam lanskap ini, kunjungan generasi tua bukan sekadar gestur kasih sayang, tetapi bagian dari sistem dukungan yang terus bekerja—meski tak pernah diumumkan.
Yang menarik, perubahan ini tidak selalu terasa dramatis—ia lebih sering hadir sebagai kelelahan kolektif. Generasi anak hidup dalam tekanan simultan: pekerjaan, pengasuhan, dan kecemasan ekonomi yang saling bertumpuk. Mereka bukan tidak peduli; mereka kehabisan kapasitas untuk proaktif secara relasional. Maka, seperti dalam banyak sistem yang kelebihan beban, bagian yang masih memiliki cadangan energi akan mengambil alih fungsi. Dalam hal ini, generasi tua—dengan stabilitas emosi yang relatif lebih matang—menjadi operator hubungan yang tidak terlihat. Mereka bergerak bukan karena diminta, tetapi karena memahami bahwa jika tidak dilakukan, relasi itu bisa mengering tanpa suara.
Di titik inilah konsep intergenerational solidarity3 menjadi terasa lebih nyata sekaligus lebih tragis. Ketika bentuk solidaritas fisik dan frekuensi pertemuan menurun, yang tersisa hanyalah upaya sadar untuk menjaga ikatan emosional agar tidak putus. Namun berbeda dari masa lalu, upaya ini tidak lagi terdistribusi merata. Ia condong ke satu arah: dari tua ke muda. Dan dalam ketimpangan inilah, tindakan sederhana seperti “datang berkunjung” berubah menjadi kerja sosial yang jauh lebih berat daripada yang terlihat.
Silverstein dan Bengtson menyebut intergenerational solidarity sebagai fondasi kohesi keluarga, tetapi istilah itu terasa terlalu stabil untuk zaman yang tidak stabil.4 Ketika solidaritas struktural runtuh—anak pindah kota, kerja lintas waktu—dan solidaritas asosiatif pun menyusut, yang tersisa hanyalah solidaritas afektif yang rapuh. Pew Research Center dalam laporan Family Support in Graying Societies (2015) menemukan bahwa orangtua di banyak negara justru semakin sering menjadi pemberi dukungan utama bagi anak dewasa, baik secara emosional maupun finansial.5 Ini bukan sekadar altruisme; ini adalah redistribusi beban yang tidak pernah diumumkan. Dalam kenyataan ini, seorang ayah atau ibu yang datang berkunjung sedang menjalankan fungsi yang lebih mirip sistem cadangan ketimbang figur simbolik. Ia menjaga agar relasi tidak mati diam-diam.
Paradoks Ilusi Kedekatan Digital
Namun narasi menjadi lebih licin ketika kita memasuki ranah psikologi digital. Generasi muda hidup dalam apa yang bisa disebut sebagai “kehadiran tanpa kedatangan”—mereka hadir dalam layar, tetapi absen dalam ruang. Sherry Turkle dalam Alone Together (2011) mencatat bahwa teknologi menciptakan ilusi keintiman, di mana kita merasa terhubung tanpa benar-benar berinteraksi secara mendalam.6 Maka tak mengherankan jika sebuah panggilan video tiga menit bisa dianggap cukup, sementara perjalanan satu jam terasa terlalu mahal secara psikologis. Hubungan direduksi menjadi sinyal, bukan pengalaman. Dalam lanskap ini, kunjungan fisik menjadi sesuatu yang hampir anomali—hangat, tetapi tidak dianggap mendesak.
Ironinya, biologi manusia tidak tunduk pada logika efisiensi digital. Zak, Kurzban, dan Matzner (2007) menunjukkan bahwa oksitosin—hormon yang memperkuat kelekatan—meningkat secara signifikan melalui sentuhan dan interaksi langsung, bukan melalui layar.7 Sebaliknya, interaksi digital lebih memicu dopamin instan yang cepat naik dan cepat hilang. Artinya, kita hidup dalam relasi yang terasa cukup secara kognitif, tetapi kosong secara biologis. Dalam konteks ini, kunjungan orangtua menjadi semacam terapi tak terjadwal—sebuah intervensi yang mengembalikan tubuh pada ritme sosialnya yang asli. Mereka datang bukan hanya untuk berbincang, tetapi untuk “menghidupkan kembali” mekanisme kelekatan yang tidak bisa disimulasikan.
Dari perspektif sosio-historis, fenomena ini bahkan lebih subversif. Vygotsky pernah membayangkan zona perkembangan proksimal sebagai ruang transfer pengetahuan dari yang tua ke yang muda. Namun hari ini kita menyaksikan inversi halus—anak lebih mahir dalam teknologi, sementara orangtua lebih mahir dalam relasi. Laporan World Bank dalam World Development Report: Digital Dividends (2016) menunjukkan bahwa manfaat teknologi digital tidak terdistribusi merata dan sering kali memperlebar kesenjangan kapasitas antarkelompok sosial, termasuk lintas generasi, bahkan di negara maju.8 Maka yang terjadi bukan lagi transmisi linier berbasis usia, melainkan pertukaran yang canggung: anak mengajarkan fitur, orangtua mengajarkan makna. Di tengah pertukaran ini, kunjungan menjadi momen di mana dua jenis pengetahuan saling bernegosiasi.
Teori life course dari Glen Elder Jr. membantu kita membaca ini sebagai adaptasi historis, bukan penyimpangan moral. Dalam era kapitalisme cepat, mobilitas tinggi, dan kerja tanpa batas waktu, keluarga harus menemukan ulang cara bertahan. OECD dalam How’s Life? 2020 mencatat bahwa waktu berkualitas bersama keluarga justru menurun meskipun teknologi komunikasi semakin canggih.9 Keluarga tidak bubar; ia menguap perlahan dalam kesibukan. Maka, tindakan sederhana seperti datang berkunjung berubah menjadi tindakan melawan arus—sebuah penolakan terhadap logika bahwa kedekatan bisa diwakilkan oleh konektivitas. Ia kecil, tetapi radikal.
Otak Generasi Masa Depan
Yang lebih mengkhawatirkan adalah implikasinya terhadap Generasi Beta, anak-anak yang lahir dalam dunia yang bahkan belum sepenuhnya kita pahami. American Academy of Pediatrics dalam Media and Young Minds (2016) memperingatkan bahwa paparan layar berlebih pada usia dini berkorelasi dengan keterlambatan bahasa, gangguan perhatian, dan kesulitan regulasi emosi.10 Ini bukan sekadar soal kebiasaan, melainkan perubahan dalam cara otak terhubung. Anak-anak ini tidak kekurangan informasi; mereka kekurangan pengalaman diadik—interaksi satu lawan satu yang membentuk empati. Mereka tahu cara menggulir, tetapi belum tentu tahu cara menunggu giliran bicara.
Di sinilah kunjungan seorang kakek atau nenek menjadi sesuatu yang jauh lebih serius daripada yang tampak. Center on the Developing Child Harvard University dalam laporan Serve and Return Interaction Shapes Brain Circuitry (2018) menunjukkan bahwa interaksi tatap muka yang responsif membentuk koneksi neural yang krusial bagi perkembangan kognitif dan sosial.11 Ketika seorang nenek menanggapi ocehan cucunya dengan perhatian penuh, ia sedang membangun fondasi neurologis yang tidak bisa digantikan oleh layar. Ia bukan sekadar hadir; ia sedang membentuk otak. Dalam dunia yang terlalu cepat, ia memperlambat waktu untuk memungkinkan perkembangan terjadi.
Maka, mungkin kita perlu membalik cara kita membaca fenomena ini. Ini bukan tentang generasi tua yang terlalu perhatian, melainkan tentang generasi tua yang memahami sesuatu yang belum sepenuhnya kita sadari: bahwa relasi manusia kini membutuhkan upaya tambahan untuk tetap hidup. Mereka tidak sekadar beradaptasi; mereka melakukan pekerjaan emosional yang tak terlihat. Jika dulu mereka adalah pusat yang dituju, kini mereka menjadi penjaga yang bergerak. Mereka kehilangan status simbolik, tetapi mendapatkan peran eksistensial.
Pertanyaan yang tersisa menjadi agak mengganggu: siapa sebenarnya yang lebih dewasa dalam relasi hari ini? Apakah mereka yang sibuk hingga tak sempat datang, atau mereka yang tetap datang meski tahu mungkin tidak dinanti? Dalam dunia yang memuja efisiensi, tindakan yang tampak tidak efisien sering kali justru paling manusiawi. Seorang berusia 66 tahun yang terus berkunjung mungkin tidak hanya sedang mencintai keluarganya—ia sedang menolak masa depan di mana cinta cukup diwakili oleh notifikasi. Dan mungkin, tanpa kita sadari, itu adalah bentuk keberanian yang paling jarang kita temui hari ini.
Catatan Akhir
1. Filial piety adalah bakti anak kepada orangtua: menghormati, merawat, menaati, menjaga nama baik keluarga, dan melanjutkan tanggung jawab moral serta tradisi.
2. Lihat Pew Research Center, Family Support in Graying Societies (Washington, DC, 2015). Tautan: https://www.pewresearch.org/social-trends/2015/05/21/family-support-in-graying-societies/. Laporan ini menunjukkan bahwa orangtua semakin menjadi pemberi dukungan utama bagi anak dewasa, baik secara emosional maupun finansial. Temuan ini membalik asumsi tradisional tentang arah ketergantungan dalam keluarga. Dalam konteks esai ini, data ini menegaskan bahwa inisiatif generasi tua bukan anomali, melainkan pola struktural yang sedang menguat.
3. Intergenerational solidarity bukan sekadar sentimentalitas; ia adalah jaringan praktis dan normatif yang menghubungkan generasi untuk kesejahteraan bersama, keberlanjutan budaya, dan ketahanan sosial.
4. Lihat Merril Silverstein dan Vern L. Bengtson, “Intergenerational Solidarity and the Structure of Adult Child-Parent Relationships in American Families”, American Journal of Sociology 103, No. 2 (September 1997): 429–460. Tautan: https://doi.org/10.1086/231213. Artikel ini menguji secara empiris konsep solidaritas antargenerasi dan menunjukkan bahwa hubungan orangtua–anak dewasa tetap kuat meski mengalami diferensiasi dalam bentuk interaksi. Temuan ini menantang asumsi sederhana tentang melemahnya keluarga modern. Dalam konteks esai, studi ini menguatkan argumen bahwa relasi tidak hilang, tetapi berubah bentuk dan distribusinya.
5. Lihat Pew Research Center, loc. cit.
6. Lihat Sherry Turkle, Alone Together (New York: Basic Books, 2011), 1–21. Tautan: https://archive.org/details/alonetogetherwhy0000turk. Turkle mengkritik ilusi keintiman yang diciptakan teknologi. Kehadiran digital sering menggantikan, bukan melengkapi, interaksi nyata. Ini relevan untuk memahami mengapa kunjungan fisik terasa semakin jarang.
7. Lihat Paul J. Zak, Robert Kurzban, dan William T. Matzner, “Oxytocin Is Associated with Human Trustworthiness”, PLoS ONE 2, No. 3 (March 2007): e1128. Tautan: https://doi.org/10.1371/journal.pone.0001128. Studi ini menunjukkan bahwa peningkatan oksitosin berkorelasi dengan tingkat kepercayaan dan keterbukaan dalam interaksi sosial. Temuan ini memberikan dasar biologis yang kuat bagi pentingnya interaksi langsung dalam membangun relasi. Dalam konteks esai, ini menegaskan bahwa hubungan digital sulit menggantikan dimensi biologis kelekatan manusia.
8. Lihat World Bank, World Development Report 2016: Digital Dividends (Washington, DC: World Bank, 2016). Tautan: https://openknowledge.worldbank.org/bitstream/handle/10986/23347/9781464806711.pdf. Laporan ini menunjukkan bahwa digitalisasi tidak otomatis meratakan peluang, melainkan sering memperlebar kesenjangan kemampuan dan akses antar kelompok sosial. Teknologi mendistribusikan manfaat secara asimetris, tergantung kapasitas adaptasi. Dalam konteks esai, ini menjelaskan mengapa relasi antargenerasi berubah bukan karena usia semata, tetapi karena ketimpangan dalam mengelola dunia digital.
9. OECD, How’s Life? 2020: Measuring Well-being (Paris: OECD Publishing, 2020), 102–110. Tautan: https://www.oecd.org/statistics/how-s-life-23089679.htm. OECD menemukan penurunan waktu berkualitas keluarga meski konektivitas meningkat. Ini menyoroti paradoks modernitas. Teknologi mempermudah komunikasi, tetapi tidak menjamin kedekatan.
10. American Academy of Pediatrics, Council on Communications and Media, “Media and Young Minds”, Pediatrics 138, No. 5 (November 2016): e20162591. Tautan: https://doi.org/10.1542/peds.2016-2591. Artikel ini merupakan rujukan resmi AAP yang mengulas dampak paparan media digital pada anak usia dini, terutama terkait perkembangan bahasa, perhatian, dan regulasi emosi. Dalam konteks esai ini, temuan menguatkan argumen bahwa interaksi digital tidak dapat menggantikan kualitas interaksi diadik dalam pembentukan kapasitas sosial anak.
11. Center on the Developing Child, Harvard University, “Serve and Return Interaction Shapes Brain Circuitry”, Working Paper No. 15 (Cambridge, MA, 2018). Tautan: https://developingchild.harvard.edu/resources/serve-and-return-interaction-shapes-brain-circuitry/. Dokumen ini menjelaskan bahwa interaksi “serve and return” antara anak dan pengasuh merupakan mekanisme kunci pembentukan sirkuit otak pada masa awal perkembangan. Tanpa respons timbal balik yang konsisten, perkembangan kognitif dan sosial dapat terganggu secara signifikan. Dalam konteks esai, konsep ini menegaskan bahwa kehadiran fisik bukan sekadar preferensi relasional, melainkan kebutuhan biologis dalam pembentukan manusia.

TENTANG PENULIS
Edy Suhardono adalah Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Ia juga penggagas SoalSial. Ikuti ia di Facebook IISA dan Twitter IISA.