Anak Cerdas dan Saleh: Doa yang Diam-Diam Bertabrakan
Di banyak ruang keluarga, terutama kelas menengah yang hidup dalam kecemasan diam, ada doa pendek yang terus diulang seperti mantra: semoga anakku menjadi cerdas dan saleh. Kalimat ini terdengar ringan, bahkan nyaris tak tersentuh kritik. Ia diucapkan dalam nada lembut, dibungkus harapan yang tampak tulus, dan diwariskan lintas generasi seolah ia adalah tujuan paling ideal dari pendidikan. Tidak ada yang mempertanyakan karena siapa yang berani meragukan doa orangtua?
Namun jika kita sedikit saja menggeser jarak pandang, doa itu mulai terlihat seperti dua jalur yang tidak pernah benar-benar bertemu. Kecerdasan dalam sistem pendidikan modern telah direduksi menjadi sesuatu yang terukur—angka, skor, performa dalam ujian. Sementara kesalehan hidup dalam domain yang sama sekali berbeda—ia normatif, simbolik, dan sering kali tidak terukur secara empiris. Ketika keduanya disatukan dalam satu kalimat, kita sebenarnya sedang memaksakan dua bahasa yang tidak sepenuhnya kompatibel.
Psikologi pendidikan kritis membantu kita membongkar lapisan ini. Paulo Freire, melalui tesisnya tentang pendidikan sebagai praktik kebebasan, menegaskan bahwa pendidikan tidak pernah netral; ia selalu membawa ideologi tertentu. Ketika seorang anak didorong untuk “cerdas”, ia sebenarnya sedang diarahkan untuk memenuhi standar sistem yang sudah ditentukan—standar yang lahir dari kebutuhan ekonomi, bukan dari kebebasan berpikir. Sebaliknya, ketika ia didorong untuk “saleh”, ia sering kali dibimbing untuk mematuhi norma yang sudah mapan, bukan mempertanyakannya. Di titik ini, kita mulai melihat ketegangan: kecerdasan menuntut keberanian bertanya, sementara kesalehan sering dirawat melalui kepatuhan.
Lebih jauh, kita mungkin perlu mengakui sesuatu yang terasa sedikit tidak nyaman: orangtua tidak sepenuhnya bebas dalam mendefinisikan doa mereka. Mereka berbicara menggunakan bahasa yang disediakan oleh sistem. Ketika mereka mengatakan “cerdas”, mereka mengacu pada standar sekolah dan pasar kerja. Ketika mereka mengatakan “saleh”, mereka merujuk pada norma moral yang diwariskan komunitas. Doa itu bukan murni milik mereka; ia adalah hasil dari internalisasi struktur sosial yang lebih besar.
Ketika Kesalehan dan Kecerdasan Tidak Berjalan Bersama
Seandainya kontradiksi ini hanya bersifat filosofis, mungkin kita masih bisa mengabaikannya. Namun data empiris justru memperjelas keganjilan tersebut. Laporan PISA 2022 Results (Volume I) yang diterbitkan OECD menunjukkan bahwa capaian akademik sangat bergantung pada faktor sosial-ekonomi, seperti status keluarga, akses sumber belajar, dan lingkungan budaya. Dengan kata lain, kecerdasan—sebagaimana diukur oleh sistem pendidikan—tidak sepenuhnya merupakan hasil dari kualitas moral atau usaha individu.
Di sini kesalehan kehilangan pijakan praktisnya. Ia tidak serta-merta meningkatkan skor matematika atau kemampuan literasi. Dunia pendidikan global tidak memberi bobot yang sama pada nilai moral dengan pada performa kognitif. Maka anak yang dididik menjadi saleh tetap harus bertarung dalam medan yang tidak mengakui mata uang moralnya.
Temuan Ilana M. Horwitz dalam Religion and Academic Achievement (2020) bahkan lebih mengguncang. Ia menemukan bahwa remaja yang religius cenderung memiliki perilaku akademik yang baik—lebih rajin, lebih disiplin, dan lebih sedikit melakukan pelanggaran—tetapi mereka secara rata-rata masuk ke institusi pendidikan yang kurang selektif dibandingkan teman sebaya mereka yang kurang religius dengan performa serupa. Ini bukan sekadar statistik; ini adalah ironi struktural. Kesalehan dihargai sebagai disiplin, tetapi tidak cukup untuk menggeser posisi dalam hierarki pendidikan.
Fakta lain datang dari studi tentang hubungan religiusitas dan motivasi belajar. Penelitian oleh Ismail dan rekan (2025) menunjukkan adanya korelasi positif antara religiusitas dan motivasi akademik, tetapi korelasi tersebut relatif lemah (r = 0.317). Artinya, kesalehan memang memberi dorongan psikologis, tetapi ia bukan faktor utama yang menentukan keberhasilan akademik. Motivasi yang lahir dari religiusitas hanya menjadi salah satu variabel kecil dalam sistem yang jauh lebih kompleks.
Sementara itu, penelitian Rachman dan Mariyati (2025) menunjukkan bahwa religiusitas orangtua meningkatkan keterlibatan mereka dalam pendidikan anak, tetapi melalui mediasi harga diri, bukan secara langsung. Ini berarti bahkan ketika kesalehan berhasil menggerakkan partisipasi orangtua, efeknya tetap tidak linear terhadap prestasi anak. Ada banyak lapisan lain—psikologis, struktural, bahkan politis—yang menentukan hasil akhir.
Semua ini membawa kita pada kesimpulan yang mulai terasa pahit: kesalehan dan kecerdasan memang bisa beririsan, tetapi sistem tidak mengondisikan keduanya untuk berjalan beriringan secara optimal. Keduanya hidup dalam logika yang berbeda. Yang satu beroperasi dalam dunia nilai dan makna, yang lain dalam dunia angka dan kompetisi.
Menuju Pembacaan Baru: Antara Kepatuhan dan Kesadaran Kritis
Jika kita berhenti pada titik ini, kita hanya akan sampai pada kesimpulan yang sinis: bahwa doa orangtua adalah ilusi yang mustahil. Namun psikologi pembebasan dan emansipatori mengajak kita melangkah lebih jauh—bukan sekadar membongkar kontradiksi, tetapi memahami mengapa kontradiksi itu dipertahankan.
Dalam perspektif ini, orangtua bukanlah aktor yang sepenuhnya bebas. Mereka hidup dalam sistem yang menuntut anak menjadi produktif sekaligus stabil secara sosial. Anak yang “cerdas” dibutuhkan untuk menggerakkan ekonomi, sementara anak yang “saleh” diharapkan menjaga keteraturan moral. Kedua harapan ini tidak benar-benar saling menguatkan; keduanya lebih menyerupai dua fungsi yang harus dipenuhi oleh satu individu.
Di sinilah letak paradoks yang jarang disadari: sistem mungkin tidak pernah benar-benar menginginkan anak yang sekaligus kritis dan otonom secara moral. Kecerdasan yang terlalu kritis berpotensi menggugat struktur, sementara kesalehan yang terlalu reflektif bisa melahirkan pertanyaan-pertanyaan etis yang mengganggu status quo. Maka yang lebih diharapkan sebenarnya adalah versi moderat dari keduanya: cukup cerdas untuk bekerja, cukup saleh untuk taat.
Freire menyebut kebutuhan akan conscientization—kesadaran kritis terhadap realitas sosial. Namun kesalehan yang diajarkan secara normatif sering kali menghambat proses ini karena ia menyediakan jawaban sebelum pertanyaan diajukan. Anak diajarkan untuk percaya sebelum memahami, untuk menerima sebelum meragukan. Ini bukan kesalehan yang membebaskan, melainkan kesalehan yang menenangkan.
Dalam praktik sehari-hari, anak akhirnya belajar memainkan dua peran. Di sekolah, ia mengasah logika, strategi, dan kompetisi. Di rumah atau lingkungan sosial, ia menampilkan kepatuhan dan kesantunan moral. Kedua identitas ini tidak selalu menyatu; mereka sering beroperasi secara paralel. Anak menjadi adaptif, bahkan cerdas dalam arti tertentu, tetapi bukan dalam arti yang dibayangkan oleh filsafat pembebasan: sebagai subjek yang sadar dan merdeka.
Di titik ini, mungkin kita perlu membaca ulang doa itu, bukan untuk menolaknya, tetapi untuk meradikalisasinya. Bagaimana jika “cerdas” tidak lagi berarti sekadar unggul dalam sistem yang ada, melainkan mampu memahami dan mengkritisinya? Bagaimana jika “saleh” tidak lagi berarti patuh pada norma, melainkan bertanggung jawab secara etis terhadap dunia yang tidak adil?
Pertanyaan-pertanyaan ini membawa kita ke kemungkinan baru yang tidak nyaman tetapi jujur: bahwa anak yang benar-benar cerdas dan saleh mungkin justru sulit diatur, sulit diprediksi, bahkan sulit diterima oleh sistem. Ia akan mempertanyakan banyak hal, termasuk nilai-nilai yang diwariskan kepadanya. Ia tidak akan puas menjadi pemain dalam permainan yang tidak ia percayai.
Dan mungkin, di situlah letak yang paling menggetarkan: orangtua sebenarnya tidak benar-benar siap untuk anak seperti itu. Doa mereka menginginkan kesempurnaan, tetapi sistem—dan realitas kehidupan—memaksa pilihan. Maka kita kembali ke ruang tamu itu, ke doa yang sama, tetapi dengan kesadaran baru: bahwa di balik harapan sederhana itu, ada dunia yang diam-diam memisahkan apa yang tampak ingin disatukan.
Catatan Akhir
1. Freire menempatkan pendidikan sebagai ruang konflik antara domestikasi dan pembebasan. Dalam konteks ini, kesalehan normatif cenderung memperkuat domestikasi, sementara kecerdasan kritis menjadi potensi pembebasan yang sering kali ditekan. Lihat Yi-Huang Shih, “Some Critical Thinking on Paulo Freire’s Critical Pedagogy and Its Educational Implications”, International Education Studies 11, no. 9 (2018). Diakses 16 Juni 2026. Tautan: https://files.eric.ed.gov/fulltext/EJ1189530.pdf
2. Laporan ini menegaskan bahwa prestasi akademik tidak netral, melainkan sangat dipengaruhi struktur sosial. Hal ini memperlihatkan bahwa kecerdasan sebagai capaian pendidikan lebih merupakan produk sistem daripada karakter moral individu. Lihat OECD, PISA 2022 Results (Volume I): The State of Learning and Equity in Education (Paris: OECD Publishing, 2023). Diakses 16 Juni 2026. Tautan: https://eric.ed.gov/?id=ED635593
3. Laporan ini menunjukkan bahwa variabel non-kognitif seperti rasa makna hidup, nilai moral, atau kesejahteraan subjektif memang penting bagi kehidupan siswa, tetapi tidak memiliki korelasi kuat dengan skor akademik yang terstandarisasi. Dengan demikian, sistem evaluasi global secara implisit memarginalkan dimensi moral-spiritual dalam pengukuran keberhasilan pendidikan. Lihat Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), PISA 2018 Results (Volume III): What School Life Means for Students’ Lives (Paris: OECD Publishing, 2019). Diakses 16 Juni 2026. Tautan: https://www.oecd.org/pisa/publications/pisa-2018-results-volume-iii-acd78851-en.htm
4. Paradoks religiusitas menunjukkan bahwa kesalehan meningkatkan disiplin, tetapi tidak selalu memperkuat mobilitas struktural. Ini mengindikasikan adanya batas sistemik terhadap nilai moral dalam kompetisi pendidikan. Lihat Ilana M. Horwitz, “Religion and Academic Achievement: A Research Review”, Review of Religious Research (2020). Diakses 16 Juni 2026. Tautan: https://files.eric.ed.gov/fulltext/ED661876.pdf
5. Korelasi yang lemah memperlihatkan bahwa religiusitas hanya salah satu faktor kecil dalam motivasi akademik. Sistem pendidikan tetap lebih ditentukan oleh variabel struktural daripada dorongan spiritual. Lihat Nor Rashidah Paujah Ismail, Fadzilah Abdol Razak, dan Norhasliza Ahmad, “The Relationship between Religiosity and Academic Motivation among University Students”, International Journal of Research and Innovation in Social Science (2025). Diakses 16 Juni 2026. Tautan: https://rsisinternational.org/journals/ijriss/articles/the-relationship-between-religiosity-and-academic-motivation-among-university-students/
6. Mediator harga diri menunjukkan bahwa efek religiusitas tidak langsung, melainkan melalui konstruksi psikologis tertentu. Ini menegaskan bahwa bahkan nilai moral pun harus melewati filter psikologis sebelum berdampak pada pendidikan anak. Lihat Risca Setya Rachman dan Lely Ika Mariyati, “Religiosity, Self-Esteem, and Parental Involvement in Child Education”, Indonesian Journal of Islamic Studies 13, no. 4 (2025). Diakses 16 Juni 2026. Tautan: https://ijis.umsida.ac.id/index.php/ijis/article/view/1789
7. Lihat Yi-Huang Shih (2018), loc. cit.

ABOUT THE AUTHOR
Edy Suhardono adalah Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Ia juga penggagas SoalSial. Ikuti ia di Facebook IISA dan Twitter IISA.