Komodifikasi Masa Kecil dan Ilusi Pengasuhan
Pernahkah Anda membayangkan betapa absurdnya nasib seorang janin di era modern ini? Belum genap organ tubuhnya terbentuk sempurna, ia sudah dipaksa menjadi pendengar pasif dari dentingan sonata Mozart melalui pelantang suara yang ditempelkan paksa di perut ibunya. Dalam ruang gelap berair itu, sang janin sesungguhnya tidak sedang diindoktrinasi menjadi genius yang elegan. Ia justru sedang menerima pesan spam pertama dalam hidupnya: sebuah tuntutan awal bahwa keberadaannya harus segera menghasilkan nilai tambah (return on investment).
Mari kita bongkar kebohongan massal yang lebih dari dua dasawarsa kita mapankan sebagai keyakinan ini. Semua kegilaan ini berhulu pada tahun 1993, ketika Frances Rauscher, Gordon Shaw, dan Catherine Ky menerbitkan artikel ilmiah pendek di jurnal Nature berjudul "Music and Spatial Task Performance". Mereka hanya menyebutkan bahwa mendengarkan sonata Mozart K.448 memberi efek tambahan spasial pada sekelompok mahasiswa selama tidak lebih dari lima belas menit.
Namun, oleh logika pasar yang haus akan kecemasan, temuan sepele ini digoreng dan dimutilasi menjadi sebuah agama baru.
Tiba-tiba saja, setiap orangtua percaya bahwa sel-sel otak bayi bisa diretas menjadi setajam pisau bedah hanya dengan modal kaset musik klasik. Kegilaan ini sebenarnya sudah ditampar keras oleh sains puluhan tahun kemudian. Sebuah meta-analisis masif oleh Jakob Pietschnig, Martin Voracek, dan Anton Formann yang terbit di jurnal Intelligence pada tahun 2010 dengan tegas menyatakan tidak ada bukti bahwa Mozart meningkatkan kecerdasan umum.
Pun, Samuel Mehr dari Harvard University dalam publikasinya di PLoS ONE (2013) membuktikan bahwa les musik prasekolah gagal memberikan manfaat kognitif yang signifikan bagi anak.
Namun, apakah kematian mitos secara ilmiah ini menghentikan para orangtua memutar musik klasik untuk perut mereka? Tentu saja tidak. Mitos Efek Mozart menolak mati bukan karena orangtua urban kita terlalu awam untuk membaca jurnal ilmiah. Mitos ini bertahan karena ia telah bermutasi fungsi dari sekadar "alat pencerdas anak" menjadi sejenis obat penenang eksistensial bagi para orangtua itu sendiri.
Di sinilah letak sudut pandang yang mungkin enggan kita akui di depan cermin. Obsesi terhadap pengasuhan kognitif—mulai dari flashcard bayi hingga kursus koding anak usia empat tahun—sejatinya bukanlah tentang cinta tanpa syarat kepada sang anak. Ia adalah bentuk pelarian narsistik paling senyap dari hiruk-pikuk dan kekejaman sistem ekonomi neoliberal. Ketika dunia kerja terasa makin brutal dan status sosial makin rentan merosot, anak diubah fungsinya menjadi semacam aset derivatif untuk melindungi harga diri orangtuanya.
Orangtua kelas menengah memeluk gagasan solusi instan ini karena di dalam sistem yang menuntut manusia bekerja layaknya mesin, ada rasa hampa dan ketidakberdayaan yang luar biasa. Membeli produk "peningkat kecerdasan" atau menjadwalkan anak dengan selusin les tambahan memberikan ilusi bahwa hidup ini masih bisa dikendalikan. Tindakan yang tampak seperti dedikasi pengasuhan ini sebenarnya adalah jeritan pelan dari jiwa orangtua yang letih dan ketakutan. Anak tidak lagi dilihat sebagai manusia kecil yang sedang mekar, melainkan sebagai proyek manajemen risiko.
Kita bisa melihat bagaimana komodifikasi pengasuhan ini bekerja dengan sangat kejam di kota-kota besar. Sosiolog Annette Lareau, dalam mahakaryanya Unequal Childhoods: Class, Race, and Family Life (2003), menyebut fenomena ini sebagai concerted cultivation atau "pengembangan terencana".
Lareau membongkar bagaimana orangtua kelas menengah dengan sengaja merekayasa waktu luang anak-anak mereka dengan aktivitas terstruktur yang ketat. Tujuannya sangat transaksional: untuk mengakumulasi modal budaya dan menanamkan rasa berhak (sense of entitlement) agar kelak anak siap bertarung di dunia korporat.
Pengasuhan dengan metode semacam ini secara perlahan mengubah rumah dari sebuah tempat berlindung menjadi pabrik kognitif mini (cognitive sweatshop). Hal ini sangat menguras tenaga batin, menyedot waktu istirahat, dan membakar uang dengan hasil akhir yang ironis: orangtua kolaps karena kelelahan, dan anak-anak kehilangan masa kecil mereka. Fakta yang lebih mengejutkan baru-baru ini dirilis oleh Pew Research Center dalam laporan "Parenting in America Today" (2023), yang mengungkap bahwa 41% orangtua mengaku merasa sangat letih (burnout) hingga taraf ekstrem akibat tekanan untuk terus mengoptimalkan masa depan anak mereka.
Mengapa kita rela menghancurkan kewarasan kita sendiri demi sesuatu yang belum tentu terjadi? Jawabannya ada pada ketidakstabilan sosial yang menganga lebar di era kapitalisme lanjut. Hak istimewa antargenerasi kini tidak bisa lagi sekadar diwariskan lewat garis keturunan atau tanah seperti di era feodal. Hak istimewa itu harus direkayasa ulang sejak sang anak masih berbentuk embrio.
Logika bisnis dengan sangat cerdik masuk dan mengeksploitasi rasa cemas kolektif ini. Industri pendidikan dan pengasuhan menjual stiker bertuliskan "bisa bikin cerdas" pada hampir setiap benda mati, dari mainan balok hingga susu formula. Membeli produk-produk ini seolah memberi garansi bahwa kita telah mendirikan benteng yang tak bisa ditembus oleh ancaman kemiskinan di masa depan sang anak. Kita lupa bahwa kita sedang menukar kehangatan interaksi hari ini dengan sebuah janji palsu tentang kejayaan di masa depan.
Jebakan solusi instan neoliberal ini menunjukkan betapa rapuhnya kita saat dihadapkan pada ketidakpastian batin. Kita mengira bahwa ketidaksiapan mental seorang anak untuk menghadapi dunia bisa ditambal dengan uang tunai dan langganan aplikasi edukasi. Pemikiran mekanis ini mengabaikan fakta biologis yang paling mendasar tentang bagaimana otak manusia sebenarnya berkembang. Hubungan hati ke hati secara perlahan digantikan oleh suara mekanis dari perangkat pintar yang tak pernah bisa menatap balik mata seorang anak dengan penuh empati.
Akibat dari pergeseran ini sungguh mengerikan jika kita mau jujur melihatnya. Laporan klinis dari American Academy of Pediatrics (AAP) yang ditulis oleh Michael Yogman dkk. dengan judul "The Power of Play: A Pediatric Role in Enhancing Development in Young Children" dalam jurnal Pediatrics (2018), mengungkap fakta yang menampar.
Laporan tersebut menegaskan bahwa jadwal anak yang terlalu padat (overscheduling) demi stimulasi kognitif justru merusak fungsi eksekutif otak mereka. Anak-anak yang kehilangan waktu bermain bebas berisiko lebih tinggi mengalami gangguan kecemasan dan kehilangan kemampuan mengelola stres di kemudian hari.
Semakin tinggi investasi finansial orangtua pada alat-alat pintar dan les berbayar, ironisnya semakin tipis pula ruang tersisa untuk sekadar duduk berdampingan tanpa agenda. Pelukan, kebosanan, dan tawa spontan yang nirfaedah secara ekonomi tersingkir begitu saja, dianggap sebagai pemborosan waktu. Niat awal yang konon ingin membentuk masa depan cerdas justru merampok kesempatan terakhir kita untuk menjadi manusia seutuhnya di hadapan anak-anak kita. Uang terus menguap, tetapi keintiman keluarga perlahan membeku.
Otak anak tidak tumbuh tangguh lewat kurikulum militeristik yang dijejalkan sejak usia dini. Otak mereka justru menebal dan menguat saat mereka merasa aman, diterima tanpa syarat, dan—yang paling dihindari oleh orangtua modern—dibiarkan merasa bosan. Ketika rasa bosan dibunuh habis-habisan oleh jadwal les dan gawai genggam, anak kehilangan kesempatan paling krusial dalam hidupnya: belajar menghadapi kehampaan dirinya sendiri. Padahal, dari ruang kosong dan ketidakberdayaan itulah imajinasi dan resiliensi mental lahir secara organik.
Di tengah arus zaman yang makin memuja angka dan matrik ini, kita dituntut untuk melakukan sebuah pemberontakan intelektual. Kita harus berani menatap ruang abu-abu dalam proses tumbuh kembang tanpa buru-buru menempelkan label metrik padanya. Menarik untuk membongkar kembali gagasan lawas Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan "Among", bukan sebagai teks sejarah yang usang, melainkan sebagai sebuah manifesto radikal anti-neoliberal.
Ki Hajar Dewantara sebenarnya sedang memperingatkan kita tentang bahaya menjadikan anak sebagai komoditas industri. Sistem "Among" tidak bertujuan menciptakan tiruan sempurna dari mesin pekerja yang dicari oleh bursa tenaga kerja modern. Sebaliknya, ia menuntut ketersediaan ruang aman bagi jiwa untuk membusuk, gagal, bermain, dan tumbuh dengan logikanya sendiri, tanpa dipaksa masuk ke dalam cetakan yang dibuat oleh kepanikan orang dewasa.
Layaknya benih yang dilempar ke tanah lembap, masa kecil tidak membutuhkan intervensi teknokratis yang berlebihan; ia hanya butuh dibiarkan utuh. Perasaan, kegagalan, dan kebingungan seorang anak memiliki bobot eksistensial yang sama pentingnya, jika tidak lebih penting, daripada nilai matematika dan kelancaran berbahasa Inggris. Ironisnya, kearifan hidup yang sesungguhnya sering kali tidak lahir dari rentetan piala kompetisi yang menyilaukan mata.
Kebijaksanaan justru sering kali mekar dari potongan-potongan hari yang gagal, dari lutut yang berdarah saat bermain, dan dari waktu-waktu yang dianggap tidak produktif oleh standar sekolah zaman sekarang. Mungkin sudah saatnya kita berhenti menjadikan anak-anak kita sebagai pelindung nilai (hedge fund) bagi kecemasan masa tua kita. Biarkan mereka goyah, biarkan mereka menjadi manusia biasa yang tak perlu menanggung beban menyelamatkan ego orangtuanya dari kerasnya arus zaman.
Daftar Bacaan
Frances H. Rauscher, Gordon L. Shaw, dan Catherine N. Ky, "Music and Spatial Task Performance," Nature 365, no. 6447 (1993): 611.
Jakob Pietschnig, Martin Voracek, and Anton K. Formann, "Mozart effect–Shmozart effect: A meta-analysis," Intelligence 38, no. 6 (2010): 314-323.
Samuel A. Mehr et al., "Two Randomized Trials Provide No Consistent Evidence for Nonmusical Cognitive Benefits of Brief Preschool Music Enrichment," PLoS ONE 8, no. 12 (2013): e82007.
Annette Lareau, Unequal Childhoods: Class, Race, and Family Life, Berkeley: University of California Press, 2003.
Rachel Minkin and Juliana Horowitz, "Parenting in America Today," Pew Research Center, 24 Januari 2023.
Michael Yogman et al., "The Power of Play: A Pediatric Role in Enhancing Development in Young Children," Pediatrics 142, no. 3 (2018): e20182058.

ABOUT THE AUTHOR
Edy Suhardono adalah Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Ia juga penggagas SoalSial. Ikuti ia di Facebook IISA dan Twitter IISA.