Selamat Datang di IISA - Assessment, Consultancy & Research Centre

  • (021) 537 3482 (BSD Tangerang) * WA BSD Tangerang: 0813 1888 2382

  • (021) 537 3482 (BSD Tangerang) * WA BSD Tangerang: 0813 1888 2382

Antara Dicintai dan Menjadi Diri Sendiri: Dilema Attachment dan Authenticity dalam Pengasuhan

Antara Dicintai dan Menjadi Diri Sendiri: Dilema Attachment dan Authenticity dalam Pengasuhan

Dalam film animasi Coco, Miguel menghadapi dilema yang sangat manusiawi: ia mencintai keluarganya, tetapi juga mencintai musik—sesuatu yang justru dilarang oleh keluarganya. Ia dihadapkan pada pilihan yang bernuansa eksistensial: tetap diterima atau menjadi dirinya sendiri. Pergulatan serupa terlihat dalam Turning Red, ketika Meilin berusaha mempertahankan citra sebagai anak yang membanggakan ibunya, sementara sisi dirinya yang spontan dan penuh gairah menuntut ruang untuk diakui.

Kedua kisah tersebut bukan sekadar tontonan dramatik yang digarap oleh studio Pixar, tetapi dengan kuat merepresentasikan dinamika psikologis mendasar dalam perkembangan manusia: tarik-ulur antara attachment (kelekatan) dan authenticity (keaslian diri).

Dalam praktik profesional psikologi, dinamika ini bukan fenomena fiktif. Tidak jarang orangtua datang dengan keluhan bahwa anaknya keras kepala, membangkang, atau “berubah” ketika mulai memiliki pendapat sendiri. Menariknya, anak yang sama sering digambarkan sangat penurut di sekolah atau lingkungan sosial lain. Situasi ini kerap ditafsirkan sebagai problem disiplin, padahal secara perkembangan dapat dipahami sebagai proses negosiasi antara kebutuhan akan keterhubungan dan kebutuhan akan identitas diri.

Apa Itu Attachment dan Mengapa Kebutuhan ini Fundamental?

Konsep attachment dirumuskan secara sistematis oleh John Bowlby (1969) yang menegaskan bahwa kelekatan merupakan sistem biologis yang bertujuan menjaga kedekatan anak dengan figur pengasuh sebagai sumber rasa aman. Rasa aman ini membentuk apa yang disebut secure base, yakni landasan psikologis yang memungkinkan anak berani mengeksplorasi dunia.

Penelitian lanjutan oleh Mary Ainsworth (1978) menunjukkan bahwa kualitas kelekatan—aman atau tidak aman—memiliki implikasi terhadap regulasi emosi, kepercayaan interpersonal, serta pembentukan harga diri. Dengan demikian, attachment bukan sekadar kebutuhan sosial, melainkan dapat dimaknai sebagai fondasi perkembangan psikologis.

Namun dalam praktik pengasuhan, kelekatan dapat berubah menjadi bersyarat. Cinta dan penerimaan kadang—secara implisit—dikaitkan dengan kepatuhan, prestasi, atau kesesuaian terhadap ekspektasi orangtua. Ketika pesan yang diterima anak adalah “kamu dicintai jika…”, relasi berpotensi bergeser dari ruang aman menjadi ruang evaluatif.

Authenticity: Dorongan Menjadi Diri Sendiri

Berbeda dengan hewan yang terutama bergantung pada keterhubungan untuk bertahan hidup, manusia memiliki kesadaran diri dan kebutuhan untuk membangun identitas unik. Dalam kerangka Self-Determination Theory, Edward L. Deci dan Richard M. Ryan (2000; 2017) menjelaskan bahwa selain kebutuhan akan keterhubungan (relatedness), manusia juga memiliki kebutuhan akan otonomi. Otonomi merujuk pada pengalaman bahwa tindakan berasal dari pilihan dan nilai diri, bukan sekadar tekanan eksternal.

Authenticity bertumpu pada kebutuhan otonomi tersebut. Individu yang autentik mampu mengekspresikan nilai, minat, dan arah hidupnya secara konsisten dengan identitas pribadinya.

Psikoanalis Donald Winnicott (1965) bahkan membedakan antara true self dan false self. Ketika anak terus-menerus menyesuaikan diri demi mempertahankan penerimaan, ia berisiko mengembangkan false self—identitas yang adaptif secara sosial, tetapi terpisah dari pengalaman diri yang sejati.

Mengapa Anak Berani Membangkang di Rumah?

Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah: mengapa anak lebih mudah menentang orangtua dibanding orang lain?

Secara teoretis, rumah idealnya merupakan secure base (Bowlby, 1969). Justru karena relasi tersebut diasumsikan aman, anak berani menguji batas. Perilaku yang tampak sebagai pembangkangan sering kali merupakan proses eksplorasi identitas:

Apakah saya tetap diterima ketika saya menunjukkan sisi diri yang berbeda?

Dalam perspektif perkembangan identitas yang dikemukakan oleh Erik Erikson (1968), fase remaja memang ditandai oleh krisis identity versus role confusion. Ketegangan dengan figur otoritas bukanlah penyimpangan, melainkan bagian dari pembentukan identitas yang sehat.

Dengan kata lain, konflik antara orangtua dan anak kerap kali bukan soal moralitas atau kedisiplinan semata, melainkan negosiasi psikologis antara kebutuhan untuk tetap terhubung dan kebutuhan untuk menjadi diri sendiri.

Attachment vs Authenticity: Ketegangan yang Alamiah

Tarik-ulur antara attachment dan authenticity adalah fenomena normatif. Masalah muncul ketika salah satu kebutuhan ditekan secara ekstrem.

Attachment tanpa ruang authenticity dapat menghasilkan kepatuhan yang rapuh—individu yang diterima, tetapi kehilangan arah diri. Sebaliknya, authenticity tanpa fondasi attachment berisiko melahirkan kebebasan yang terlepas dari rasa aman dan keterhubungan.

Kesehatan psikologis tercapai bukan dengan menghapus ketegangan, melainkan dengan mengintegrasikan keduanya.

Tugas Orangtua

Tugas orangtua bukanlah menghilangkan dorongan authenticity pada anak, melainkan menyediakan attachment yang cukup aman sehingga eksplorasi identitas dapat berlangsung tanpa ancaman kehilangan cinta. Rasa aman tersebut memungkinkan anak berani mencoba, berbeda pendapat, bahkan melakukan kesalahan, tanpa merasa relasi dasarnya terancam.

Struktur dan batas tetap diperlukan dalam pengasuhan. Anak membutuhkan kerangka nilai, panduan normatif, serta referensi moral sebagai bagian dari proses internalisasi. Namun struktur berbeda dari kontrol identitas. Struktur membantu anak mengembangkan regulasi diri; kontrol identitas menekan diferensiasi diri.

Pengasuhan yang mendukung otonomi—dalam terminologi Deci dan Ryan (2000)—mengintegrasikan kehangatan emosional dengan batas yang konsisten. Orangtua tetap memegang nilai dan ekspektasi, tetapi tidak menjadikan cinta sebagai alat negosiasi atau syarat keberhargaan.

Pesan mendasar yang perlu sampai kepada anak bukanlah, “jadilah seperti yang saya inginkan agar dicintai”, melainkan, “kamu tetap dicintai, bahkan ketika kamu sedang mencari dan membentuk jati dirimu”.

Tugas Anak dan Individu Dewasa

Di sisi lain, authenticity bukan berarti menolak seluruh nilai keluarga. Kedewasaan psikologis ditandai oleh kemampuan mengintegrasikan identitas pribadi dengan keterhubungan relasional.

Ketidaksadaran akan polaritas kebutuhan ini—antara diterima dan menjadi diri sendiri—dapat menjadi sumber luka perkembangan atau trauma. Ketika pada masa kanak-kanak atau remaja individu merasa harus mengorbankan keaslian diri demi mempertahankan cinta, atau sebaliknya harus melepaskan keterhubungan demi mempertahankan integritas diri, konflik tersebut dapat terinternalisasi sebagai rasa tidak aman, malu, atau keterasingan diri. Dalam banyak kasus, dinamika ini baru disadari pada masa dewasa ketika individu mulai mempertanyakan pola relasi, pilihan hidup, atau perasaan hampa yang sulit dijelaskan sumbernya.

Secara psikologis, trauma bukan semata lahir dari konflik, melainkan dari ketidakmampuan lingkungan relasional untuk menampung konflik tersebut secara aman. Anak yang tidak memperoleh ruang untuk menegosiasikan perbedaan dapat mengembangkan adaptasi ekstrem: menjadi terlalu patuh dan terfragmentasi dari diri sejati, atau menjadi sangat defensif dan menjauh dari kedekatan emosional.

Karena itu, individu dewasa yang sehat belajar merekonsiliasi dua kebutuhan tersebut secara sadar, memahami bahwa berbeda tidak selalu berarti memutus relasi, dan mampu mempertahankan integritas diri tanpa kehilangan kapasitas untuk tetap terhubung. Kedewasaan bukanlah ketiadaan ketegangan, melainkan kemampuan menoleransi dan mengelola ketegangan antara cinta dan kebebasan secara reflektif.

Keseimbangan yang Perlu Dimaknai

Attachment menyediakan fondasi. Authenticity menyediakan arah.

Jika attachment tidak terpenuhi, fondasi psikologis menjadi rapuh. Jika authenticity ditekan, individu menjauh dari makna dan kebahagiaan dirinya. Keduanya adalah kebutuhan mendasar.

Relasi yang sehat bukan relasi tanpa konflik, melainkan relasi yang mampu menampung ketegangan antara diterima dan menjadi diri sendiri.

Karena pada akhirnya, manusia tidak hanya ingin dicintai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku, melainkan ingin dicintai sebagai dirinya sendiri yang unik dan otentik.

Daftar Pustaka

Ainsworth, M. D. S., Blehar, M. C., Waters, E., & Wall, S. 1978. Patterns of Attachment: A Psychological Study of the Strange Situation. Hillsdale, NJ: Erlbaum.

Bowlby, J. 1969/1982. Attachment and Loss: Vol. 1. Attachment. New York: Basic Books.

Deci, E. L., & Ryan, R. M. 2000. “The “what” and “why” of goal pursuits: Human needs and the self-determination of behavior”. Psychological Inquiry, 11(4), 227–268.

Erikson, E. H. 1968. Identity: Youth and Crisis. New York: Norton.

Ryan, R. M., & Deci, E. L. 2017. Self-Determination Theory: Basic Psychological Needs in Motivation, Development, and Wellness. New York: Guilford Press.

Winnicott, D. W. 1965. The Maturational Processes and the Facilitating Environment. London: Hogarth Press.

TENTANG PENULIS

  • Leo Dewa Hardana
    Leo Dewa Hardana 2026-03-09 11:54:49

    Leo Dewa Hardana adalah Junior Consultant dan Project Coordinator di IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre.

Bagikan

© 2017 IISA VISI WASKITA | Multiple Intelligences Consultant | Developed by Jasa Pembuatan Website.