Selamat Datang di IISA - Assessment, Consultancy & Research Centre

  • (021) 537 3482 (BSD Tangerang) * WA BSD Tangerang: 0813 1888 2382

  • (021) 537 3482 (BSD Tangerang) * WA BSD Tangerang: 0813 1888 2382

Nilai Dollar Melangit, Masih Relevankah Asesmen Pendidikan Anak?

Nilai Dollar Melangit, Masih Relevankah Asesmen Pendidikan Anak?

Kenaikan nilai dollar hingga menembus Rp 17.500 per dollar AS mungkin tampak seperti angka yang dingin—sekadar indikator di layar finansial. Namun perlahan ia merembes ke ruang yang paling personal: ruang makan, ruang belajar, dan percakapan malam antara orangtua dan anak. Harga kebutuhan naik, biaya pendidikan ikut tertekan, dan rencana masa depan mendadak terasa rapuh. Di tengah perubahan itu, ada satu hal yang hampir tidak berubah: kita tetap menilai anak-anak dengan cara yang sama, seolah dunia di luar sana masih stabil.

Di sinilah keganjilan itu muncul. Saat ekonomi bergejolak, sistem asesmen pendidikan justru berjalan dengan keteguhan yang nyaris mekanis—angka, skor, peringkat—seolah masa depan masih bisa diramalkan dari hasil ujian. Pertanyaan yang cenderung kita tunda menjadi semakin mendesak: ketika realitas berubah lebih cepat dari kurikulum, apakah ukuran keberhasilan anak masih benar-benar berbicara tentang masa depan, atau sekadar memberi rasa aman yang semu?

Bagi banyak keluarga kelas menengah, kegelisahan ini terasa diam-diam. Ia tidak selalu meledak, tetapi hadir dalam bentuk tekanan halus: keinginan agar anak “tidak tertinggal”, kecemasan jika nilai turun, atau sebaliknya—keletihan mempertanyakan arah pendidikan itu sendiri. Dalam lanskap seperti ini, krisis ekonomi bukan hanya krisis angka, tetapi krisis makna tentang apa yang disebut keberhasilan.

Ketika Nilai Menjadi Sandaran Psikologis

Dalam pengalaman banyak orangtua, nilai akademik sering menjadi jangkar yang memberi rasa kontrol. Ketika dunia terasa tidak pasti, ada kebutuhan psikologis untuk menemukan sesuatu yang bisa diukur, diprediksi, dan diandalkan. Carol Dweck menggambarkan bagaimana sistem penilaian yang kaku dapat mendorong fixed mindset: anak dilihat sebagai hasil akhir, bukan proses yang berkembang.

Dalam kondisi ekonomi stabil, kerangka ini mungkin masih dapat menopang optimisme. Namun ketika tekanan meningkat—nilai tukar melemah, peluang kerja berubah—makna nilai itu ikut bergeser. Ia tidak lagi sekadar indikator belajar, melainkan simbol harapan. Anak yang berprestasi dianggap memiliki jalan keluar dari ketidakpastian.

Psikologi sosial mengenal fenomena compensatory control—ketika individu menghadapi dunia yang terasa kacau, mereka mencari struktur untuk menggantikan rasa kehilangan kontrol. Dalam konteks ini, asesmen pendidikan menjadi salah satu bentuk struktur tersebut. Nilai tinggi menjadi semacam penghiburan: bahwa masih ada sesuatu yang “tertata” di tengah dunia yang goyah.

Namun ada konsekuensi yang jarang disadari. Ketika nilai menjadi sandaran psikologis, tekanan terhadap anak meningkat secara implisit. Mereka tidak hanya belajar untuk memahami pelajaran, tetapi juga untuk menjaga kestabilan emosional keluarga. Di sinilah penilaian kehilangan fungsi awalnya sebagai alat pemahaman, dan berubah menjadi mekanisme kecemasan yang diwariskan.

Tekanan Ekonomi dan Cara Mendidik

Fluktuasi nilai tukar bukan hanya peristiwa ekonomi; ia memengaruhi cara orangtua memandang pendidikan. Penelitian American Psychological Association menunjukkan bahwa tekanan finansial berkorelasi dengan meningkatnya stres keluarga, yang kemudian memengaruhi pola pengasuhan. Orangtua dalam kondisi tertekan cenderung menjadi lebih protektif atau lebih perfeksionis terhadap anak-anaknya.

Dalam konteks Indonesia, tekanan ini terlihat dalam ambisi pendidikan yang semakin kompetitif. Sekolah favorit, les tambahan, hingga target nilai menjadi bagian dari strategi menghadapi ketidakpastian ekonomi. Pendidikan berubah menjadi investasi—bahkan kadang menjadi satu-satunya strategi mobilitas sosial yang dirasa tersedia.

Namun realitas global menunjukkan bahwa hubungan antara prestasi akademik dan keberhasilan hidup semakin tidak linear. Laporan Future of Jobs dari World Economic Forum menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis, adaptasi, dan ketahanan mental dalam menghadapi masa depan yang tidak pasti. Sayangnya, aspek-aspek ini sering kali sulit ditangkap oleh sistem asesmen berbasis angka.

Kita pun menghadapi paradoks yang halus: semakin tidak pasti ekonomi, semakin kita mengandalkan sistem penilaian yang menawarkan kepastian semu. Di satu sisi, kebutuhan untuk bertahan mendorong kita mempercayai angka. Di sisi lain, dunia yang nyata justru menuntut kemampuan yang tidak mudah diukur.

Menggeser Makna Keberhasilan

Dalam refleksi yang lebih mendalam, persoalan ini bukan semata tentang kurikulum atau metode evaluasi, melainkan tentang cara kita memaknai anak itu sendiri. Ivan Illich pernah mengingatkan bahwa sistem pendidikan kerap mereproduksi struktur sosial yang ada, bukan menyiapkan individu untuk realitas yang terus berubah.

Ketika asesmen menjadi pusat perhatian, ada kecenderungan melihat anak sebagai “hasil” yang harus memenuhi standar tertentu, bukan sebagai manusia yang sedang bertumbuh. Dalam praktik sehari-hari, ini terlihat dalam kecemasan performatif: anak merasa dihargai ketika berhasil, dan merasa kehilangan nilai diri ketika gagal.

Namun di tengah tekanan itu, mulai muncul pergeseran kecil yang menarik. Beberapa orangtua mencoba memberi ruang bagi anak untuk gagal, untuk bereksperimen, atau sekadar untuk tidak selalu unggul. Pilihan-pilihan kecil ini mungkin tampak sederhana, tetapi ia menandai perubahan penting: dari obsesif pada hasil menuju perhatian pada proses.

Dalam situasi di mana nilai dollar terus menanjak dan masa depan ekonomi terasa kabur, mungkin yang sedang diuji bukan hanya daya tahan finansial, tetapi juga imajinasi kita tentang pendidikan. Apakah kita masih memandang pendidikan sebagai jalur menuju kepastian, atau mulai melihatnya sebagai ruang belajar menghadapi ketidakpastian itu sendiri?

Sebab boleh jadi, tantangan terbesar bagi generasi yang tumbuh hari ini bukanlah meraih skor tertinggi, melainkan mengembangkan keberanian untuk tetap belajar ketika dunia tidak lagi menawarkan jawaban pasti. Dan di tengah ketidakpastian itu, nilai yang paling sulit diukur justru menjadi yang paling menentukan: kemampuan untuk bertahan, beradaptasi, dan tetap percaya bahwa masa depan tidak selalu harus diprediksi untuk bisa diperjuangkan.

Catatan Akhir:

Carol S. Dweck, Mindset: The New Psychology of Success (New York: Random House, 2006). Buku ini menjelaskan perbedaan fixed vs growth mindset dalam pendidikan.

Aaron C. Kay et al., “God and the Government: Testing a Compensatory Control Mechanism for the Support of External Systems,” Journal of Personality and Social Psychology 95, no. 1 (2008).

American Psychological Association, Stress in America Survey (2015).

World Economic Forum, The Future of Jobs Report (2020).

Ivan Illich, Deschooling Society (New York: Harper & Row, 1971).

TENTANG PENULIS

  • Edy Suhardono
    Edy Suhardono 2026-05-13 07:15:10

    Edy Suhardono adalah Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Ia juga penggagas SoalSial. Ikuti ia di Facebook IISA dan Twitter IISA.

Bagikan

© 2017 IISA VISI WASKITA | Multiple Intelligences Consultant | Developed by Jasa Pembuatan Website.