Selamat Datang di IISA - Assessment, Consultancy & Research Centre

  • (021) 537 3482 (BSD Tangerang) * WA BSD Tangerang: 0813 1888 2382

  • (021) 537 3482 (BSD Tangerang) * WA BSD Tangerang: 0813 1888 2382

SNBP dan Tragedi Pelucutan Nalar

SNBP dan Tragedi Pelucutan Nalar

Jujur saja, saya selalu tersenyum kecut—kalau tidak mau dibilang sedikit muak—setiap kali sirkus tahunan bernama Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) kembali meramaikan jagat pendidikan kita. Berita tentang SMA dan madrasah bergengsi yang sukses mengekspor lulusannya ke Perguruan Tinggi Negeri dengan angka mencengangkan—mencapai 90 hingga 105 siswa—mendadak jadi tajuk utama yang memekakkan telinga (Kompas, 17/4/2026). Angka-angka gemuk itu diarak keliling kota bagai piala suci, seolah menjadi bukti absolut kehebatan sekolah dan—secara terselubung—supremasi finansial orangtuanya. Di titik inilah saya merasa kita sedang merayakan sebuah tragedi peradaban secara berjemaah. Proses pendidikan yang seharusnya menjadi perjalanan spiritual menemukan diri, perlahan-lahan keriput dan menyusut menjadi sekadar deretan papan skor. Publik menuhankan momen pengumuman ini layaknya hari penghakiman, padahal kita semua tahu itu hanyalah ilusi optik dari sebuah masa remaja yang dirampas.

 

Dulu kita sering dibuai dongeng manis bahwa sistem seleksi ini menghargai proses yang berkelanjutan. Gagasan ideal ini memang seolah mengamini dalil Barry J. Zimmerman dalam Self-Regulated Learning and Academic Achievement: An Overview (2000),1 yang menyebut regulasi diri sebagai kunci utama keberhasilan akademik dan ketahanan mental. Namun, coba kita gunakan logika waras untuk menelanjangi sistem ini. Apakah grafik nilai yang terus meroket itu benar-benar bukti kecintaan pada ilmu pengetahuan? Jelas bukan; anak-anak ini tidak sedang belajar meregulasi diri untuk menjadi lebih pintar atau lebih bijak. Mereka sedang dilatih mati-matian menjadi mesin birokratis sejak dini, menekan sekecil apa pun rasa ingin tahu yang berisiko merusak nilai demi memuaskan algoritma seleksi yang buta.

 

Situasi ini mau tak mau memaksa ingatan saya kembali pada mitologi Yunani tentang Procrustes, si pandai besi psikopat yang punya cara gila dalam menjamu tamu. Ia menyediakan ranjang besi; jika tubuh tamunya terlalu pendek, ia akan menarik kakinya sampai putus, dan jika terlalu panjang, ia akan memotong kakinya tanpa ampun. Bukankah SNBP hari ini beroperasi persis seperti ranjang Procrustes itu? Kita mengamputasi keunikan, membungkam keliaran berpikir, dan mengebiri minat otentik anak-anak kita semata-mata agar mereka muat ke dalam cetakan bernama "konsistensi nilai". Sekolah yang katanya sukses besar itu sebenarnya hanya jago mensterilkan ruang kelas dari eksperimen kognitif yang berpotensi melahirkan kesalahan. Prestasi, di bawah rezim ini, bukanlah buah dari kecerdasan, melainkan produk fabrikasi massal dari kepatuhan tanpa syarat.

 

Kegilaan menyeragamkan potensi ini jelas-jelas meludahi warisan intelektual Howard Gardner, psikolog Harvard yang puluhan tahun silam telah meruntuhkan mitos kecerdasan tunggal lewat teori Multiple Intelligences.2 Gardner dengan amat jernih memaparkan bahwa setiap anak terlahir membawa konstelasi kecerdasannya sendiri—entah itu musikal, spasial, atau kinestetik—yang mustahil dikerangkeng dalam satu format seleksi akademik yang kaku. Ironisnya, bukannya merayakan orkestra keberagaman kognitif ini, ekosistem pendidikan kita justru bertindak layaknya algojo yang membantai bakat-bakat nonakademik tanpa ampun. Luka peradaban ini dipotret dengan sangat perih oleh Edy Suhardono dalam karyanya yang bernas, Kecerdasan Jamak, Keberagaman dan Inklusivitasnya (2025). Suhardono menelanjangi borok institusi kita: inklusivitas sering kali cuma jadi lipstik pemanis di brosur sekolah, sementara di ruang kelas, kecerdasan logis-matematis tetap disembah sebagai kasta tertinggi.3 Akibatnya, ribuan anak yang dianugerahi kecerdasan di luar radar SNBP perlahan mati lemas, dicap sebagai produk gagal oleh sebuah sistem yang sejatinya buta huruf terhadap kemanusiaan.

 

Di meja makan keluarga kelas menengah yang selalu didera kecemasan, prestasi tak lebih dari komoditas sirkus yang harus selalu dipamerkan. Pola pikir transaksional ini mungkin terdengar logis untuk memenangi arena gladiator seleksi, tapi ia adalah fondasi pasir yang sangat rapuh untuk mengarungi kehidupan nyata. Temuan klasik Carol Dweck tentang growth mindset dalam Mindset: The New Psychology of Success (2006) 4 memukul telak fenomena ini, membuktikan bahwa pemujaan pada proses jauh lebih menyelamatkan ketimbang pemujaan pada hasil akhir. Anak yang terbiasa dihargai usahanya akan memiliki daya lenting sekuat baja saat jatuh. Anehnya, sistem seleksi kita justru mengharamkan growth mindset; sistem ini tak memberi ampun bagi anak yang nilainya hancur di semester dua karena patah hati atau bingung, lalu bangkit cerdas di semester empat. Kita secara sadar memaksa guru menjadi penata rias angka agar grafik belajar siswa terlihat mulus paripurna tanpa cacat.

 

Di sebuah SMA tempat saya pernah menghabiskan 3 tahun, terlalu sering saya harus menatap sepasang mata kosong milik siswa kelas XII yang nilainya selangit. Jiwa mereka digerogoti kecemasan eksistensial yang ngilu setiap kali musim pengumuman tiba. Mereka sudah terlanjur tereduksi; menilai harga diri dan martabat kemanusiaannya hanya dari dua digit desimal di atas rapor. Peringatan tajam Edward Deci dan Richard Ryan dalam The "What" and "Why" of Goal Pursuits (2000) 5 mendadak terasa begitu nyata di lorong-lorong kelas. Ketergantungan buta pada motivasi ekstrinsik—berupa iming-iming kursi PTN dan ancaman rasa malu—telah membunuh motivasi intrinsik remaja kita hingga ke akarnya. Mereka menelan buku pelajaran bukan karena semesta ini menakjubkan, melainkan semata-mata karena takut menjadi aib keluarga di hari Lebaran.

 

Agaknya kita perlu meminjam kaca pembesar Franz Kafka lewat cerpen surealisnya, A Hunger Artist (1922), untuk melihat seberapa dalam luka generasi ini. Kafka berkisah tentang seniman yang memamerkan aksi puasa di dalam sangkar demi riuh tepuk tangan penonton, tetapi di akhir hayatnya ia mengaku berpuasa hanya karena tak pernah menemukan makanan yang ia sukai. Anak-anak kebanggaan kita ini adalah inkarnasi seniman kelaparan Kafka di era digital. Mereka puasa dari bermain, puasa dari cinta monyet, puasa dari eksplorasi seni, hanya demi menyuguhkan angka yang membuat orangtua mereka bisa pamer di media sosial. Mereka mengunyah tumpukan soal latihan yang sama sekali tak membangkitkan selera jiwa, menahan lapar akan makna demi pertunjukan akbar yang hampa.

 

Ongkos darah dari pertunjukan sirkus ini sangat mengerikan, meski jarang sekali ada stasiun TV yang mau meliputnya. Coba tengok tamparan keras dari Universitas Gadjah Mada lewat Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (2022) 6 yang menyajikan fakta brutal: 34,9 persen remaja kita terdiagnosis memiliki masalah kesehatan mental. Gangguan kecemasan menjadi pembunuh senyap yang paling rakus memangsa mereka. Kita terlalu sibuk tumpengan merayakan segelintir anak yang lolos, sambil pura-pura buta melihat ratusan anak lainnya di sekolah yang sama diam-diam mengiris pergelangan tangan atau menenggak obat penenang. Prestasi akademik yang seharusnya menjadi penyangga emosi masa muda telah kita ubah menjadi mesin penggiling yang melumat habis kewarasan mereka. Ini jelas sebuah tumbal peradaban yang harganya tak masuk akal.

 

Kelucuan lain yang selalu berulang tiap tahun adalah mental kawanan domba yang mendadak kehilangan arah. Begitu ada koran memberitakan passing grade jurusan kedokteran atau teknik yang meroket (Kompas, 28/3/2026), ribuan anak mendadak menjadikannya kiblat suci tanpa repot-repot bertanya pada hati nurani sendiri. Leon Festinger (1954)7 sudah membedah kegilaan ini puluhan tahun lalu lewat teori social comparison, di mana manusia punya kecenderungan konyol untuk menilai diri menggunakan standar artifisial milik orang lain. Di era pameran digital seperti sekarang, kebiasaan membandingkan diri ini bermutasi menjadi racun mematikan yang mencekik napas anak-anak kita. Pendampingan yang sehat semestinya berani memetakan potensi unik; mencari tahu apa yang membuat mata seorang anak berbinar, bukan sekadar melihat skor matematika. Menyeragamkan mimpi anak semata-mata demi meniru tetangga yang sukses hanyalah tiket VIP menuju kelelahan jiwa yang kronis.

 

Di persimpangan inilah ambisi buta sering kali berujung pada kejatuhan psikologis yang tragis. Jacquelynne S. Eccles dan Robert W. Roeser (2011)8 telah merumuskan konsep person–environment fit yang menegaskan bahwa bunga hanya akan mekar jika tanahnya sesuai dengan spesiesnya. Memaksakan jurusan kuliah hanya karena gengsi sosial akan menciptakan ketidakselarasan kognitif yang membesar layaknya tumor ganas di dalam otak. Di klinik-klinik psikologi, dampaknya sudah mewabah dalam bentuk burnout ekstrem di kalangan mahasiswa baru; mereka berhasil menjebol gerbang kampus top, tapi sampai di dalam, jiwa mereka sudah jadi abu. Melawan arus gila ini sama sekali bukan upaya membunuh ambisi anak. Sebaliknya, ini adalah operasi penyelamatan darurat untuk melepaskan ambisi mereka dari parasit bernama kesombongan komunal orangtua.

 

Lalu, bagaimana dengan klaim kolaborasi harmonis antara guru dan orangtua? Kebanyakan relasi itu cuma basa-basi administratif yang baru menyala saat anak tersandung nilai merah. Kolaborasi sejati yang mampu menopang daya tahan anak harusnya berwujud navigasi kehidupan yang intim sejak awal. Hal ini menggemakan pemikiran Nancy E. Hill dan Diana F. Tyson (2009)9 tentang shared expectations, di mana rumah dan sekolah mengirimkan pesan moral yang sama untuk memantik keterlibatan batin siswa. Namun, saya berani bertaruh, apa yang terjadi hari ini bukanlah kolaborasi edukatif, melainkan "kartel nilai". Guru dan orangtua diam-diam bersekongkol merekayasa portofolio, memoles kebohongan demi memenangkan tender kursi di universitas negeri.

 

Bagi sekolah-sekolah di pinggiran yang tak punya "siswa unggulan" titipan pejabat, tantangannya memang tidak seksi di mata media, tapi martabatnya jauh melampaui sekolah elite mana pun. Saat tak bisa memproduksi lulusan secara massal layaknya pabrik garmen, kemewahan sejati yang mereka miliki adalah relasi kemanusiaan yang mendalam antara guru dan murid. Ruang kelas mereka bisa menjadi tempat pelarian dari pemujaan hasil yang sakit, beralih pada optimalisasi potensi yang sangat personal. Alexander W. Astin lewat riset legendarisnya What Matters in College? (1993)10 sudah membuktikan secara empiris bahwa kecocokan nilai pribadi dengan lingkungan kampus jauh lebih menentukan nasib ketimbang sekadar nebeng nama besar universitas. Almamater sementereng apa pun tak akan pernah sanggup menyelamatkan jiwa yang sejak awal sudah salah alamat.

 

Coba kita intip sedikit horor yang menanti di ujung lorong masa depan para pemenang seleksi ini. Riset global Gallup dalam State of the Global Workplace: 2023 Report melepaskan data yang bikin bulu kuduk berdiri: 59 persen pekerja dunia mempraktikkan quiet quitting, bekerja sekadarnya tanpa nyawa dan tanpa gairah.11 Kira-kira dari mana epidemi manusia tanpa jiwa ini berasal, kalau bukan dari bangku sekolah yang mereduksi mereka jadi sekadar angka? Belasan tahun kita latih mereka menelan instruksi tanpa makna, mematikan nalar kritis demi selembar piagam yang besok lusa berakhir jadi bungkus kacang. Antropolog David Graeber (2018)12 menyebut hasilnya sebagai mesin pengisi bullshit jobs—pekerjaan omong kosong yang tak membawa faedah bagi kemanusiaan. Kita sedang mencetak robot berdaging yang perlahan lupa bagaimana caranya merdeka.

 

Sang arsitek kemanusiaan kita, Romo Y.B. Mangunwijaya, pernah berteriak keras menentang sistem pendidikan yang beroperasi layaknya pabrik sekrup, merakit manusia seragam tanpa otonomi nurani.13 Bagi Romo Mangun, mendidik itu memerdekakan batin, bukan menundukkan eksistensi ke dalam mesin birokrasi. Kegilaan massal kita merayakan deretan angka kelulusan sebenarnya adalah cermin paling jujur betapa masyarakat kita sudah sakit jiwa. Kita menormalisasi arena gladiator psikologis yang mencincang-cincang kewarasan generasi muda seolah itu adalah hal yang heroik. Sudah saatnya kita membanting kacamata kuda ini, berani merombak definisi sukses, dan membiarkan anak-anak kita bernapas tanpa harus dihantui angka.

 

Kelak, musim semi pengumuman tahun ini akan kembali lapuk menjadi debu sejarah, menguap dilupakan koran-koran langganan. Namun, pertanyaan eksistensial yang tertinggal akan terus mengendap, mengawasi kita dari sudut-sudut gelap meja makan keluarga. Di tengah bisingnya orkestrasi kebanggaan yang palsu ini, masihkah kita punya keberanian untuk berhenti sejenak dan menatap lekat-lekat mata anak kita tanpa embel-embel ekspektasi? Maukah kita menghancurkan ranjang besi Procrustes ini sebelum sisa imajinasi mereka habis dipenggal oleh pisau penyeragaman? Pada akhirnya, ketika panggung sirkus ini dibongkar, kita harus menjawab satu hal: apakah kita ingin dikenang sebagai generasi yang mahir mencetak pemenang-pemenang cemas yang lekas layu, atau penenun peradaban yang melahirkan pemikir tangguh dan merdeka?

 

Catatan Akhir

 

1. Barry J. Zimmerman, “Self-Regulated Learning and Academic Achievement: An Overview,” Educational Psychologist 25, no. 1 (2000): 3-17.

 

2. Howard Gardner, Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences (New York: Basic Books, 1983).

 

3. Edy Suhardono, Kecerdasan Jamak, Keberagaman dan Inklusivitasnya (Sidoarjo: Zifatama Jawara, 2025).

 

4. Carol S. Dweck, Mindset: The New Psychology of Success (New York: Random House, 2006).

 

5. Edward L. Deci and Richard M. Ryan, “The ‘What’ and ‘Why’ of Goal Pursuits: Human Needs and the Self-Determination of Behavior,” Psychological Inquiry 11, no. 4 (2000): 227-268.

 

6. Amirah Ellyza Wahdi et al., Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS): Laporan Penelitian (Yogyakarta: Pusat Kesehatan Reproduksi, Universitas Gadjah Mada, 2022), 24.

 

7. Leon Festinger, “A Theory of Social Comparison Processes,” Human Relations 7, no. 2 (1954): 117-140.

 

8. Jacquelynne S. Eccles and Robert W. Roeser, “Schools as Developmental Contexts During Adolescence,” Journal of Research on Adolescence 21, no. 1 (2011): 225-241.

 

9. Nancy E. Hill and Diana F. Tyson, “Parental Involvement in Middle School: A Meta-Analytic Assessment of the Strategies That Promote Achievement,” Developmental Psychology 45, no. 3 (2009): 740-763.

 

10. Alexander W. Astin, What Matters in College? Four Critical Years Revisited (San Francisco: Jossey-Bass, 1993).

 

11. Gallup, Inc., State of the Global Workplace: 2023 Report (Washington, D.C.: Gallup Press, 2023), 14.

 

12. David Graeber, Bullshit Jobs: A Theory (New York: Simon & Schuster, 2018). [14] Franz Kafka, A Hunger Artist (Berlin: Verlag Die Schmiede, 1922).

 

13. Y.B. Mangunwijaya, Pendidikan Pemerdekaan (Yogyakarta: Dinamika Edukasi Dasar, 2001), 45-48.

 

TENTANG PENULIS

  • Edy Suhardono
    Edy Suhardono 2026-04-20 17:13:23

    Edy Suhardono adalah Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Ia juga penggagas SoalSial. Ikuti ia di Facebook IISA dan Twitter IISA.

Bagikan

© 2017 IISA VISI WASKITA | Multiple Intelligences Consultant | Developed by Jasa Pembuatan Website.