Assessment    Research    Topic News    Articles    Photos    Videos   
Article of Multiple Intelligences 
MISTERI SENYUM AMROZI

Oleh: Edy Suhardono
http://www.visiwaskita.com




BEGITU senyum Amrozi kepada wartawan diekspose ke media, para pembaca koran dan pemirsa televisi seolah tahu pasti makna senyum dari tersangka peledakan bom di Bali itu. Tak ayal, tayangan di televisi dan foto di surat-surat kabar yang memperlihatkan Amrozi sedang tersenyum di ruang interogasi menimbulkan kemarahan publik Australia, negara yang menanggung 66 korban meninggal dari sekitar 180 korban peledakan bom tersebut. Sampai-sampai Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer menyatakan rasa muak dan terkejut atas gambar tayangan televisi mengenai pertemuan Amrozi dan Kepala Polri Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar. Ungkapnya, "...Saya berpikir bagaimana rasanya bila salah seorang anak saya atau kerabat saya atau orang yang saya cintai tewas pada peledakan bom 12 Oktober itu," kata Downer. (Kompas, 14/11/2002)

Apakah Amrozi seorang yang, seperti disebut Downer, haus darah hanya karena "tampak senang dan mengejek pada pembantaian orang-orang tak bersalah? Apakah ekspresi Amrozi harus membuat "mual dan sedih" semua orang seperti disebutkan Monica Sanderson, orangtua Greg, salah seorang korban? Terlepas dari kesedihan yang mereka dan kita rasakan, adilkah "vonis sosial praperadilan" yang ditanggung Amrozi? Menurut hemat penulis, dengan peluang kejadian 50-50, amat mungkin kita salah tafsir atas bahasa nirkata Amrozi.

Tafsir budaya dan bahasa tubuh

Dibanding dengan kesulitan karena perbedaan bahasa, komunikasi face to face kadang lebih efektif daripada komunikasi tak langsung semisal melalui tulisan surat. Penampilan, tonasi suara, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh menjadi informasi ekstra yang memperkaya pemahaman pihak yang terlibat komunikasi dalam kondisi perbedaan bahasa. Namun, kesulitan lebih serius justru timbul karena faktor perbedaan budaya. Dalam kondisi ini, penambahan informasi nirkata justru meningkatkan kesalahpahaman. Ketika Amrozi terjebak dalam kesulitan komunikasi macam ini, ia kian masuk ke dalam situasi yang sangat memojokkan pribadinya secara psikososial.

Amrozi, sebagaimana orang Jawa umumnya, dikenal suka tersenyum sehingga ada stereotipe, Jawa adalah suku bangsa yang ramah. Orang Jawa masih dapat tersenyum saat sedang membicarakan kematian salah seorang anggota keluarganya. Padahal, senyum itu tak selalu dimaksud untuk menunjukkan kegembiraan tetapi untuk menenangkan diri. Orang Jawa bahkan sering tertawa saat mengekspresikan suatu sikap negatif. Padahal, ketawa ini sama maksudnya dengan ucapan: "Kamu ngawur!"

Bagi orang bukan Jawa, senyum Amrozi dirasa ganjil. Penulis pernah ditanyai seorang rekan peneliti dari Australia yang kebetulan sedang mengambil data di Surabaya: "Adakah yang tak beres dari penampilan saya sehingga orang tadi menertawakan saya?" Sementara, dengan derajat keheranan yang sama, orang yang baru saja bertemu dengan teman peneliti Australia itu menyempatkan bertanya kepada penulis "Kenapa teman bule-mu sepertinya 'telmi (telat mikir)' dan senyumnya kelewat serius?"

Bahasa tubuh menjadi bagian integral dari ucapan salam yang disampaikan orang Jawa. Ungkapan itu sejajar dengan orang Amerika yang mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, merangkul bahkan kadang mencium kenalan yang dijumpainya. Kontak antarpandangan mata juga bersifat lekat budaya. Orang Amerika boleh jadi merasa tidak tahan bercakap dengan orang Jawa yang tidak memandang langsung ke mata lawan bicara. Sebaliknya, orang Jawa menganggap "murahan" orang Amerika yang saat berhenti di traffic light menganggukkan kepala kepada pengemudi lain tak dikenal yang kebetulan membuka jendelanya.

Cara berpikir atributif

Ada kecenderungan orang untuk menjelaskan kejadian di lingkungan sosialnya sebagai hal "yang selalu diakibatkan" faktor-faktor nyata yang harus bertanggung jawab atau menjadi penyebab kejadian itu. Satu efek dari kecenderungan ini, seperti dianalisis para psikolog sosial, adalah adanya pola tanggap orang yang cenderung memilah-milah kejadian-kejadian menurut kaca mata positif atau negatif saja.

"Orientasi persepsi" macam ini-populer disebut "teori atribusi"-membawa orang ke kecenderungan untuk menjelaskan sebab suatu kejadian menurut konotasi yang ekstrem positif atau negatif saja. "Hipotesis Pollyana", misalnya, memperlihatkan betapa orang Amerika cenderung melihat dunia menurut kacamata optimistik, yang diungkapkan dalam bahasa Inggris sebagai good or pleasant.

Efek penting dari "teori atribusi" dinamakan halo effect. Yang dimaksud ialah fakta bahwa atribusi yang dibuat orang amat berkait dengan sistem klasifikasi kognitif tentang obyek yang bernuansa evaluatif atau yang mewakili sikap orang yang bersangkutan terhadap seseorang atau kelompok. Beberapa peristilahan dalam teori atribusi menunjukkan corak "kesentralan", yakni orang begitu mudah memberikan atribusi kepada pelaku dan menjadikan atribusi itu sebagai faktor sentral yang menjelaskan mengapa sang pelaku bertindak begitu.

Dengan penggambaran sebagai pelaku peledakan bom di Bali-di sini difungsikan sebagai sifat "sentral"-Amrozi masih dapat tersenyum saat diinterogasi, orang cenderung menambahkan sifat-sifat tambahan terhadap sifat sentral itu. Setidaknya, para pengacara Amrozi, yang tergabung dalam Tim Pengacara Muslim (TPM) menilai, sikap Amrozi yang tampak enteng sekali mengakui kejahatan yang bisa berakibat hukuman mati itu mengherankan (Kompas, 17/ 11). Tak kurang, Ketua MPR Amien Rais pun mempertanyakannya, "...Apa iya Amrozi anak pesantren yang cerdas dan dapat ilmu ladhuni dari langit sehingga bisa bikin bom? Who knows?"

Keragaman etnik dalam gaya sosialisasi mewarnai perbedaan cara orang mempersepsikan, melabel, dan memberi evaluasi (baik-buruk, menyenangkan-tak menyenangkan, dan sebagainya) terhadap kejadian. Atribusi menjadi semacam "buku pintar" orang yang dapat menjelaskan manakah anteseden yang mengantar ke konsekuen, seperti yang berlaku pada logika standar. Buku pintar inilah yang diteorikan sebagai atribusi kausal yang dalam percakapan sehari-hari amat lazim dipakai melalui kata penghubung "karena", "jika...maka"., atau yang dalam bahasa nirverbal diungkapkan dengan collocation dan punctuation-dua hal yang berperan penting dalam komunikasi face to face.

Seberapa obyektif sebutan, label, atau penilaian sebagai produk atribusi? Analisis yang diangkat dari studi-studi eksperimental cenderung mengabaikan rekaman perasaan dan pikiran, sebab rekaman semacam ini dianggap subyektif dan tak andal.

Alasan pertama, karena label atau sebutan tidak mendasarkan pada isi pikiran dan perasaan, tetapi lebih merupakan hal yang didasarkan pada kepentingan situasional tertentu. Akibatnya, persentasi atas sebutan atau penilaian tidak dengan bersifat introspektif; tetapi interpersonal, publik dan obyektif. Yang lebih penting dilakukan ialah menjabarkan konteks kejadian di mana sebutan itu dibangun.

Alasan kedua, sebutan "Amrozi adalah pembunuh haus darah" tak dapat dibedakan dengan sebutan yang dibuat orang lain dengan maksud sekadar menghibur diri menghadapi misteri Amrozi. Jadi, jika faktor pemberi sebutan disisihkan sebagai pihak yang membangun sebutan, dipertanyakan apakah sebutan yang sudah telanjur dikenakan pada Amrozi pantas menjadi kesimpulan hanya berdasarkan senyumnya.

Buta budaya membuat orang kehilangan kendali atas ekspresi nirkata yang mereka tangkap. Bahasa tubuh Amrozi bagi publik Australia tidak hanya sulit ditangkap, tetapi juga menimbulkan perasaan tak enak justru karena ketakpahaman mereka terhadap tonasi dan ekspresi wajah Amrozi. Adalah amat gegabah mengadili atau menilai Amrozi semata berdasar ekspresi nirverbalnya. Perlu kesabaran dan ketekunan untuk mengatasi perasaan bias budaya, jika kita ingin memahami orang lain yang beda budaya dengan kita.

Dr Edy Suhardono,
URL Source: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0211 ... mist30.htm
 
  Login Administrator

 
  Developed by ADITUSOFT

 
  @copyright 2009 VISI WASKITA